Hiki's Lifelog

This is my life

Halo! Apa kabar?

Semoga kalian baik-baik saja.

Di minggu ini, saya mengunjungi event bernama Artket (Art & Illustration Market). Seperti namanya, di event ini, puluhan, bahkan ratusan kreator atau artist berkumpul dan menjual merchandise atau karya-karya original mereka seperti stiker, pin, hingga poster dan pakaian. Event Artket kali ini adalah Artket edisi ketiga, dan diadakan di Brickhall at Fatmawati City Center

Ini kali pertama saya datang ke Artket.

Pengalaman saya ke event sejenis ini adalah Comifuro, itupun saat sebelum pandemi (circa 2018), jadi saya penasaran seperti apa event ini diadakan setelah pandemi. Rasa penasaran saya makin bertambah ketika melihat-lihat akun Instagram @artket.id yang mem-posting karya-karya apa saja yang akan dijual di Artket sejak bulan lalu, dan ternyata banyak yang menarik. Saking banyak yang menarik perhatian, saya pun sampai buat list apa saja yang harus saya beli di Artket kali ini.

Lalu, hari Artket pun tiba. Artket edisi kali ini diadakan dua hari, yaitu di tanggal 7 dan 8 September 2024. Saya datang di hari kedua (8 September), di hari Minggu.

Untuk ke sana, saya naik TransJakarta koridor 6A (atau 6B. Koridor 6 juga bisa) dan turun di halte Simpang Ragunan. Dari situ, saya sambung naik ojek online menuju Brickhall Fatmawati dengan tarif 10 ribu Rupiah.

Karena saya datang agak siang, jadi hampir tak ada antrian saat di depan pintu masuk (lucky!). Setiap pengunjung Artket yang ingin masuk dikenakan tarif sebesar 20 ribu Rupiah, dan setelah membayar pengunjung akan diberikan gelang Artket berwarna biru.

Artket-03

Papan Artket 03 di depan pintu masuk.

Setelah bayar tiket masuk dan diberikan gelang, saatnya masuk.

Kesan awal saya sesaat setelah masuk ke dalam Brickhall adalah suhu ruangannya yang nyaman. Tak panas, namun tak terlalu dingin. Lalu, pengunjung yang datang cukup ramai (walau tak sampai penuh sesak). Dan kebanyakan pengunjung yang datang adalah wanita, serta orang-orang yang bisa dibilang non-wibu.

Sesaat setelah masuk, hal yang saya lakukan adalah melihat sekitar. Di dekat pintu masuk ada photo booth (yang sayangnya saya tak coba karena tak ada teman), lalu di pintu keluar ada booth yang menjual makanan dan minuman (namun bangku dan meja yang disediakan agak sedikit). Lalu, area yang dipakai untuk Artket pun tak sebesar yang saya duga, jadi saya pikir saya bisa mengunjungi semuanya dalam beberapa jam.

Saatnya jajan!

Artket Merch

Artket Merch

Artket Merch

Artket Merch

Beberapa foto pernak-pernik yang ada di Artket 03.

Hampir setiap booth yang saya kunjungi, setidaknya saya membeli sekitar 3-6 stiker serta satu gantungan kunci. Pembayaran di tiap booth pun menerima cash serta QRIS. Kalau ditotal, di Artket kali ini saya menghabiskan sekitar 450 ribu Rupiah dari rencana awal sebesar 200 ribu Rupiah untuk membeli stiker dan gantungan kunci saja. Saya mengunjungi hampir semua booth selama kurang lebih dua jam.

Gelang Artket 03

Gelang Artket 03.

Kumpulan stiker

(Sedikit) oleh-oleh dari Artket.

Puas sekali rasanya datang dan belanja di Artket kali ini. Terima kasih banyak. Saya akan kembali lagi ke Artket berikutnya.

#Note #Artket

Di saat saya tak bisa tidur sekarang-sekarang ini, saya tiba-tiba kepikiran kembali, “seandainya saya punya laptop baru atau tablet baru, saya pasti lebih produktif,” lalu membayangkan saya bisa belajar online dengan dua laptop atau membaca e-book dengan tablet.

Tapi, apa iya saya bakal lebih produktif?

Sebelum ini, saya membeli sebuah buku kanji dengan pemikiran serupa: “kalau saya membeli buku kanji ini, saya bakal rajin belajar bahasa Jepang.”

Nyatanya, motivasi saya hanya bertahan beberapa hari saja, dan bukunya sekarang berada di atas meja, dipenuhi debu yang menumpuk.

Maka dari itu, setiap kali ada pemikiran “seandainya ada X, saya bakal lebih produktif,” saya akan biarkan saja. Jangan impulsif dengan beli barang-barang yang hanya membuat senang di awal. Mending uangnya ditabung.

#Note

Dua hari yang lalu (hari Senin pagi), pengumuman hasil JLPT Juli 2024 akhirnya dirilis.

Hasilnya, saya dinyatakan lulus JLPT N3!

Hasil JLPT N3

Screenshot hasil JLPT N3 saya.

Sebelum pengumuman dirilis, saya cukup percaya diri bisa lulus JLPT N3 dengan total skor di antara 100-120/180. Di bagian vocabulary dan grammar, saya percaya diri bisa dapat skor sekitar 30/60. Saya terbantu sekali di bagian grammar yang ternyata jauh lebih mudah dibandingkan saat mock test. Di bagian reading pun saya juga cukup percaya diri dapat skor di atas 25/60, karena saat tes saya sangat fokus sekali di bagian ini. Listening pun juga demikian. Walaupun agak tak fokus di bagian awal (yang justru merupakan bagian terpenting), saya bisa mengikuti sisanya. Saya yakin bisa dapat 40/60 di bagian ini.

Dan hasil pun keluar. Saya pun lulus dengan total skor yang memenuhi harapan saya. Di bagian vocabulary dan grammar, saya mendapatkan grade A. Lalu di bagian reading, saya mendapatkan skor sedikit lebih banyak daripada yang saya duga. Syukurlah. Sementara di listening, saya mendapatkan skor sesuai dengan target saya. Secara keseluruhan, saya puas dengan hasil yang saya dapat.

Apakah saya akan lanjut ke N2? Tentu saja, namun bukan di tahun ini. Karena N2 lebih rumit dibandingkan N3, saya butuh waktu persiapan yang tidak sedikit, belum lagi motivasi belajar saya yang terkadang naik-turun. Doakan saya agar saya bisa ambil N2 di bulan Juli tahun depan. Amin.

Sekian.

#Note #JLPT

Twenty-Four Eyes

Poster film Twenty-Four Eyes (1954).

⚠️ Tulisan di bawah ini mengandung spoiler film “Twenty-Four Eyes (1954).”

Film ini menceritakan kisah kehidupan seorang guru sekolah beserta keduabelas muridnya di antara tahun 1928 hingga tahun 1946, satu tahun setelah Perang Dunia Kedua berakhir.

Saat menonton film ini, memperhatikan seperti apa kehidupan masyarakat Jepang pada akhir tahun 1920-an, ternyata menarik juga. Hampir semua orang masih memakai yukata (atau kimono) dalam kesehariannya, lalu memakai sepeda dan memakai pakaian selain yukata masih dipandang negatif oleh orang-orang.

Saat menonton, saya juga sempat membandingkan kehidupan saya saat SD dulu dengan para anak-anak di film ini. Menonton film ini saya tersadar, zaman boleh berganti, namun setiap orang memiliki masalahnya masing-masing. Orangtua yang mengekang anaknya untuk melakukan hal yang mereka inginkan, lalu guru yang tidak boleh bicara sembarangan agar tidak dianggap melawan negara sendiri.

Saat mereka dewasa, ternyata kehidupan mereka tak seperti yang mereka inginkan saat kecil. Perang berkecamuk, lalu ada pula yang diasingkan oleh keluarga karena TBC, serta kehilangan orang yang disayangi kala perang.

Film ini merupakan salah satu film dengan tema guru dan murid yang rasanya patut untuk ditonton oleh semua kalangan usia.

Seingat saya, film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama dan novelnya sudah ada dalam bahasa Indonesia. Lain kali kalau saya ke toko buku, saya akan cari dan membelinya.

#Movie #Review

Sejak kemarin malam saya menonton anime Insomniacs After School karya Makoto Ojiro. Anime dengan genre slice-of-life ini dirilis pada musim semi tahun lalu dan sudah ada dalam wishlist saya, namun baru saya tonton sekarang.

君は放課後インソムニア

Poster anime “Insomniacs After School (君は放課後インソムニア),” karya Makoto Ojiro.

Sebelum menonton anime ini, saya sudah baca beberapa chapter manganya, dan juga beberapa karya Makoto Ojiro yang lain, seperti Neko no Otera no Chion-san (猫のお寺の知恩さん), misalnya (kumohon, yang ini jadikan anime juga).

Kesan saya setelah menonton anime ini: BAGUS BANGET! Apalagi buat mereka yang suka dengan genre slice-of-life serta romantis ringan. Bisa-bisanya saya diamkan anime sebagus ini selama setahun lebih.

Lalu, lagu opening dan ending dari anime ini jangan pernah dilewatkan. Lagu opening diisi oleh aiko dan ending oleh Homecomings. Selama 13 episode, saya tak pernah (dan tak ingin) skip lagu opening serta ending-nya. Lalu, background music anime ini juga jangan sampai dilewatkan dan dengarkan baik-baik. Betul-betul nyaman didengar di telinga dan menenangkan. Saya merekomendasikan pakai headphone agar kalian bisa menikmati lagu-lagunya dengan lebih baik.

Dari segi cerita pun juga sama bagusnya. Ringan, plot cerita yang minim konflik, tak banyak karakter yang muncul. Kisah romantis mereka pun juga membuat saya berkali-kali senyum-senyum sendiri.

Kesimpulan: saya sangat merekomendasikan anime ini. Sangat! Saya benar-benar kasih rating 10/10 untuk anime slice-of-life satu ini.

#Anime #Review

The Boy and the Heron

Poster film “The Boy and the Heron (2023),” dari Studio Ghibli.

⚠️ Tulisan di bawah ini mengandung spoiler film “The Boy and the Heron (2023).”

Film ini menceritakan seorang Mahiro, yang masih remaja, kehilangan Ibunya saat Perang Dunia Kedua berkecamuk. Dihantui kematian Ibunya, kemudian ia pun pindah bersama Ayahnya dari Tokyo ke sebuah desa di mana ibu tirinya yang baru bernama Natsuko tinggal. Saat sedang mencoba beradaptasi dengan lingkungan barunya, muncul sebuah bangau yang mengganggu Mahiro. Siapa bangau tersebut? Lantas bagaimana kehidupan Mahiro setelahnya?

Film ini khas Studio Ghibli dan Hayao Miyazaki sekali, membawa sedikit suasana Perang Dunia Kedua, dibumbui fantasi yang membuat kagum. Sepanjang film, saya diingatkan kembali dengan film-film Ghibli sebelumnya, seperti The Wind Rises (a.k.a. Kaze Tachinu), Spirited Away, dan Ponyo.

Dari segi cerita, saya pikir film ini tak cocok bagi mereka yang masih anak-anak atau baru memasuki remaja. Bisa saja mereka menonton film ini, namun saya rasa mereka tak mampu menikmati seluruhnya film ini. Alur cerita cukup pelan di awal, dan plot cerita pun agak membingungkan dan dalam untuk mereka yang tidak biasa dengan film Studio Ghibli (dan film-film Jepang pada umumnya). Yang membuat saya senang adalah tak banyak karakter utama di film ini, jadi saya bisa menikmatinya dengan baik.

Untuk visual, mungkin karena sudah biasa menonton film lain dari Studio Ghibli yang memang all-out bagusnya secara visual, jadi rasanya kali ini ya rasanya biasa-biasa saja di mata saya. Musiknya pun juga demikian, walaupun cukup kaget Kenshi Yonezu-lah yang mengisi ending song.

Secara keseluruhan, saya cukup puas dengan film Studio Ghibli terbaru ini, walau sayangnya saya merasa tak ingin menonton film ini untuk kedua kali (setidaknya untuk saat ini).

#Movie #Review

Setelah belasan tahun belajar bahasa Jepang, akhirnya saya sampai di level N3.

Di level ini, saya dapat membaca manga seperti Yotsubato! (dalam bahasa Jepang, tentunya) tanpa (atau dengan sedikit) kesulitan, dan juga buku-buku yang ditujukan untuk siswa sekolah dasar. Untuk membaca buku seperti buku novel atau nonfiksi dalam bahasa Jepang, saya masih cukup kesulitan karena masih menemukan kanji atau vocabulary yang belum saya ketahui.

“Saya ingin sekali bisa membaca novel atau buku nonfiksi dalam bahasa Jepang.”

Karena tak ingin menunggu hingga saya naik level ke N2 atau N1 untuk bisa membaca buku tersebut, saya pun menantang diri saya. Terinspirasi dari Blog Inhae, saya pun memutuskan untuk membuat project kecil, yaitu mentranslasi sebuah buku dalam bahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia.

Kenapa translasi buku? Dengan menerjemahkan sebuah buku, saya pun membiasakan diri untuk baca teks bahasa Jepang, mendapatkan huruf kanji atau vocabulary yang belum saya ketahui, lalu mempelajarinya. Setelah memilih-milih beberapa buku yang saya punya, saya pun memilih buku ini:

Ilse Sand's Book

Cover buku “Do You Miss Someone? How to heal a damaged relationship – or let it go,” karya Ilse Sand. Terjemahan bahasa Jepang.

Kenapa buku ini? Ada beberapa alasan. Pertama, buku ini sudah lama ada di rak buku saya (namun tak kunjung dibaca). Kedua, saya suka dengan buku-buku karya Ilse Sand, seperti Highly Sensitive People in an Insensitive World dan The Emotional Compass: How to Think Better about Your Feelings. Ketiga, buku ini tak ada dalam bahasa Inggris, jadi saya tertarik untuk baca dalam bahasa Jepang dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Saya belajar kata baru, mendapatkan ilmu yang belum saya ketahui, lalu hitung-hitung belajar translasi sekalian.

Setelah baca-baca sekilas, buku ini ditujukan oleh mereka yang telah mencapai N2 atau bahkan N1. Namun, apakah saya putus asa karenanya? Tidak sama sekali. Untungnya saat ini banyak alat bantu untuk menerjemahkan, seperti DeepL Translator atau Linguist, misalnya.

Saat menulis tulisan ini, saya sudah selesai menerjemahkan bagian kata pengantar. Saya menargetkan ke diri sendiri untuk membaca dan menerjemahkan satu halaman per hari. Pelan memang, namun tak apa. Yang penting saya senang melakukannya.

#Note

YeYe – ゆらゆら(Official Music Video)

Walaupun video musik di atas merupakan breakup song, namun saya justru lebih memperhatikan bagaimana kehidupan sang pameran perempuan yang terlihat sederhana.

Dan hal tersebut merupakan hal yang saya inginkan. Hidup sederhana dan damai.

Selama mendengarkan lagu ini, saya membayangkan diri saya dalam beberapa tahun ke depan dapat membeli sebuah unit apartemen jenis low rise, lalu menempatinya bersama pasangan dan anak, lalu hidup dalam damai bersama mereka.

Ingin sebetulnya beli rumah, namun rasanya hal tersebut sulit digapai kalau melihat kondisi saat ini, jadi saya menurunkan standar saya.

Semoga keinginan di atas bisa terwujud.

#Note

Mencari kopi dengan harga murah namun dengan rasa yang selalu konsisten tidaklah mudah.

Beberapa kali, saya mendapatkan kopi yang saat pembelian pertama rasanya enak, namun saat pembelian kedua saya kecewa karena rasanya berbeda, padahal cara membuatnya sama.

Sampai kemudian saya menemukan kopi ini:

Kopi Tubruk Gadjah

Kopi Tubruk Gadjah kemasan 138 gram.

Saya membeli Kopi Tubruk Gadjah ini murni karena penasaran ingin mencoba hal yang baru. Berawal dari kopi Excelso Robusta Gold yang habis dan saya tak mampu untuk membeli yang baru, saya mencoba untuk membeli kopi murah di minimarket dekat rumah. Setelah memilih-milih dari beberapa merk, akhirnya saya pun memilih Kopi Tubruk Gadjah kemasan 138 gram yang harganya tak sampai 15 ribu Rupiah ini.

Walaupun ini kopi tubruk dengan tekstur yang halus, di rumah saya menyeduh kopi ini dengan menggunakan coffee dripper beserta filter yang saya beli di Daiso.

Bagaimana dengan rasanya? Untuk rasanya, saya suka. Cukup pahit walau tidak berlebihan dan tidak begitu asam. Lumayan nyaman di perut. Secara keseluruhan, kopi ini pas dengan lidah saya saat saya coba pertama kali.

Apakah di pembelian kedua rasanya tetap sama?

Beberapa hari yang lalu, saya membeli kopi ini untuk kedua kalinya. Saya pun membuat dengan metode yang sama: menggunakan coffee dripper. Hasilnya? rasanya tetap sama. Konsisten. Sejak saat itulah, saya memutuskan Kopi Tubruk Gadjah ini sebagai salah satu kopi favorit saya.

#Review

Tadi, ada kejadian menarik yang rasanya bisa untuk ditulis di sini, walaupun tulisan ini merupakan tulisan receh.

Sekitar jam 6 sore, saya pergi ke minimarket untuk membeli minuman soda dingin. Saya memutuskan membeli minuman tersebut karena cuaca sepanjang hari ini cukup panas dan saya ingin melepas dahaga dengan minum minuman manis yang ringan, bukan kopi yang dirasa cukup berat.

Saat berdiri di depan pintu minimarket, saya melihat perempuan berusia 20-an dengan hijab coklat muda berjalan keluar menuju pintu. Karena kebetulan, saya pun membukakan pintu untuknya sekalian. Ia pun berterima kasih dengan suara pelan, lalu pergi.

Setelah mengambil minuman soda yang saya inginkan, saya pun ke kasir untuk membayar. Di sana, terdapat dua orang yang kebetulan adalah ayah dan anak laki-laki lebih dulu datang dengan membawa sekeranjang penuh belanjaan. Saya pun antri di belakangnya, sambil memikirkan berapa lama saya harus menunggu, apalagi belanjaan ayah dan anak tersebut terbilang banyak. Tak disangka, ayah dari anak tersebut melihat saya dan barang belanjaan saya yang hanya sebotol minuman soda, lalu mempersilakan saya untuk membayar terlebih dahulu. “Terima kasih banyak,” kataku dalam hati.

Saat perjalanan pulang, saya terus terpikir kejadian tersebut, dan terpikir kalau kejadian tadi adalah satu kebaikan kecil yang langsung dibayar lunas oleh Tuhan.

Terima kasih banyak dan maafkan saya yang tak mengucapkan terima kasih secara langsung tadi.

#Note