ひとりワンルーム

Note

Sebagai penikmat musik, apalagi nge-fans dengan suatu artis, pasti ada kalanya ingin sekali membeli tiket lalu menonton live concert artis favorit.

Saya pun demikian.

Sayangnya, di negara saya tinggal, penjualan serta distribusi tiket live concert betul-betul berantakan. Misalnya, si artis A mengumumkan live concert di sosial media mereka, lalu menjual tiket konsernya di Loket.com, lalu si artis B juga melakukan hal yang serupa, namun ia menjual tiket konsernya di Tiket.com, serta artis C bahkan sampai membuat website promosi serta penjualan tiket konsernya sendiri.

Betul-betul tersebar di banyak tempat. Tak terpusat.

Bagi orang yang jarang menonton konser (apalagi tak punya sosial media populer seperti saya), mencari event serta membeli tiket konser adalah sebuah kesulitan tersendiri.

Sekarang, bandingkan dengan Jepang.

Di Jepang, tiket event live concert serta event-event lain mudah ditemukan di eplus tickets. Bahkan, event-event besar dan terkenal seperti Fuji Rock Festival dan Summer Sonic dijual di sini. Tak hanya artis lokal, tiket konser dari artis luar negeri (yang mengadakan konser di Jepang) pun bisa didapatkan di sini. Pembayaran tiketnya pun juga mudah dijangkau, bahkan bisa dibayar di minimarket terdekat.

Bisa dibilang, distribusi tiket event live concert mereka dapat ditemukan di satu platform saja. Tak perlu susah-susah mencari.

Saya berharap suatu hari nanti, terdapat satu platform penjualan tiket yang memang khusus diperuntukkan untuk live concert (di negara ini). Artis pendatang baru, artis populer, hingga artis mancanegara dipersilahkan menjual tiket live concert-nya di platform tersebut, jadi fans tak perlu susah-susah mencari, serta pembayaran tiket konser pun mudah dijangkau banyak kalangan.

#Note

Dalam tiga bulan terakhir, Ayah saya harus menjalani perawatan di rumah sakit sebanyak empat kali.

Semua bermula di akhir Desember lalu. Saat itu Ayah saya merasakan nyeri pada pinggang belakangnya. Namun dalam beberapa minggu kemudian, rasa sakitnya menjadi semakin parah dan menjalar hingga bagian bawah tubuhnya. Saat ini Ayah saya kesulitan berjalan maupun duduk.

Selama empat kali dirawat, saya bersama adik dan Ibu bergantian menjaga Ayah yang terbaring di rumah sakit. Yang terakhir terjadi dua minggu yang lalu (dan akhirnya Ayah dapat keluar dari rumah sakit kemarin).

Di rumah sakit yang terakhir, Ayah saya dirawat di ruangan kelas tiga bersama 7 orang lainnya yang rata-rata berusia lansia. Yang membuat saya sedih adalah beberapa dari mereka yang mengisi ruangan tersebut tak ada satu orangpun yang mendampingi. Tak ada istri atau anak yang menemani mereka. Bahkan kerabat pun tak ada satupun yang menjenguk mereka. Terbaring sendirian, tak berdaya. Hanya suster dan dokter saja yang sesekali mengecek mereka, memastikan mereka baik-baik saja.

Dari wajah mereka, tampak raut kesedihan, kesepian, bahkan kehilangan semangat serta harapan untuk hidup. Berat rasanya hati saya ketika mereka yang seharusnya didampingi oleh istri, anak atau bahkan cucu mereka, malah dibiarkan sendirian seperti ini. Bahkan dua hari yang lalu, salah satu dari mereka dilarikan ke ruang ICCU karena sudah kehilangan kesadaran.

Entah bagaimana mereka menjalani hidup hingga berakhir seperti ini. Selama saya di ruang rawat sambil menjaga Ayah saya, saya melihat mereka semua, berharap agar mereka semua lekas membaik dan kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu digugurkan dalam rasa sakitnya. Mereka pun berhak mendapat pendampingan yang layak di akhir hayatnya, bukan menghadapinya dalam kesendirian.

#Note

Warning: mh-, suicide.

Seminggu yang lalu, saya mendapatkan sebuah email dari L yang mengatakan bahwa Z baru saja wafat. Dan yang begitu mengejutkan adalah, Z meninggal dengan cara mengakhiri hidupnya sendiri.

Selama beberapa hari setelah menerima email tersebut (bahkan hingga saat saya menulis ini), saya terdiam dan merasa hampa, tak membayangkan ataupun menyangka bahwa Z akan mengakhiri hidupnya sendiri.

Perkenalan saya dengan Z pertama kali adalah pada tahun 2010. Saat itu hari pertama saya bersekolah di negeri tetangga, Singapura. Sebagai wakil ketua kelas saat itu, ia (dan L, sebagai ketua kelas) mengajak saya untuk keliling sekolah dan mengenalkan seperti apa sekolah baru saya. Dan selama setahun saya berada di Singapura, saya dan Z menjadi cukup dekat. Tak hanya di sekolah, kami pun sering pergi bareng di akhir pekan, entah itu main ke taman, belajar di perpustakaan, makan di hawker, hingga main ke toko buku bekas ataupun toko art supply. Di mata saya, ia adalah ekstrovert tulen: riang, aktif, obrolannya menarik, dan kadang kelakuannya random. Namun hal itulah yang membuat saya yang introvert ini tertarik, bahkan suka kepadanya. Secara prestasi di sekolah, ia termasuk yang terpintar di kelas, namun ia tak terlalu ambisius seperti murid Singapura lainnya. Ia bisa saja mendapatkan beasiswa dan masuk ke universitas terbaik di luar Singapura (bahkan U.S.) dan memilih jurusan sains, namun ia memutuskan untuk tetap di Singapura dan mengambil jurusan arsitek setelah lulus di tahun 2011.

Beberapa tahun setelah kami lulus, saya beberapa kali pulang-pergi Singapura dan bertemu dengannya (dan dengan L juga), sebelum kesibukan masing-masing membuat jarak yang lebar di antara kami berdua. Sebelum pandemi, di awal tahun 2020, ia mengabarkan saya bahwa ia tinggal di Australia dan melanjutkan S2 di sana.

Dan itulah terakhir kali saya mendengar kabarnya, sebelum kabar duka tersebut datang.

Apa yang terjadi dengannya selama lima tahun terakhir, atau bahkan selama ia hidup, tetap dan akan selamanya jadi misteri. Pertemanan saya dengan Z bisa dibilang singkat, namun saya dapat mengatakan bahwa Z adalah salah satu teman terbaik saya. Saya berharap saya sudah menjadi teman atau rekan yang baik selama ia menjalani hidup, dan bukan membuatnya menderita dan menjadi salah satu penyebab ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Untuk Z, semoga kamu beristirahat dalam damai. Terima kasih banyak, untuk segalanya.

#Note

Sejak minggu lalu, timeline di sosial media saya penuh dengan orang-orang yang menetapkan resolusi tahun 2026-nya. Ada orang yang ingin membuat jurnal (seperti bullet journal, travel journal, hingga junk journal), ada pula yang ingin belajar bahasa baru. Sebagai orang yang motivasinya naik-turun, rasanya saya tak cocok untuk membuat jurnal, apalagi fokus untuk belajar bahasa baru, walaupun saya sebetulnya ingin.

“Jadi, di tahun 2026 ini tak ingin berubah sama sekali, dan tetap sama seperti tahun sebelumnya?”

Tidak juga. Tetap ada hal yang ingin saya ubah atau setidaknya saya ingin lakukan, walaupun hal tersebut bukanlah hal yang besar atau signifikan.

Berikut hal-hal yang ingin saya lakukan pada tahun ini:

  • Berhenti total pakai Spotify dan beralih mendengarkan musik dari file mp3, AAC, atau FLAC. Sudah cukup saya pakai platform streaming ini. Saatnya saya kembali mendengarkan semua tracks dalam satu album dari suatu artis, alih-alih mendengarkan satu playlist yang di dalamnya ada banyak tracks dari beberapa artis. Sebetulnya, saya ingin memiliki CD album ataupun Vinyl, namun kamar saya terlalu kecil untuk mengoleksi semua itu (serta melawan prinsip minimalis yang sedang saya lakukan saat ini).

  • Membeli sebuah music player untuk menyimpan lagu-lagu favorit saya. Saya ingin punya device terpisah untuk mendengarkan lagu, alih-alih menggunakan smartphone.

  • Menggunakan smartphone seperlunya saja. Tujuan akhirnya adalah hanya menggunakan smartphone dikala benar-benar butuh, dan menghapus aplikasi-aplikasi yang tak lagi penting di sana.

  • Membaca buku dengan rakus, dengan melahap buku sebanyak mungkin dari berbagai genre. Untungnya di sekitar saya tinggal ada beberapa perpustakaan dengan berbagai macam koleksi yang dapat dipinjam dengan durasi 7-14 hari dan dapat diperpanjang, jadi saya tak harus repot-repot beli buku di toko buku.

Rasanya ini saja.

Apa resolusi 2026 kalian?

#Note

Apa yang kalian pikirkan ketika mendengar kata “Singapura”?

Mungkin sebagian besar orang akan berkata: Changi Airport, kota yang bersih, Orchard Road, atau bahkan surga belanja.

Namun buat saya tak demikian.

Belasan tahun yang lalu, Singapura adalah rumah sekaligus tempat menimba ilmu.

Saat SMA, saya memberanikan diri untuk mendaftar program pertukaran pelajar ke luar negeri. Tak disangka-sangka, saya pun diterima oleh salah satu sekolah di Singapura untuk menimba ilmu selama setahun penuh. Tak pikir panjang, saya pun menerimanya.

Beberapa bulan setelah pengumuman tersebut, saya pun berangkat ke Singapura bersama 30 orang lainnya, yang mungkin adalah putra-putri terpilih bangsa (tidak termasuk saya, tentunya). Selama hampir dua jam di pesawat, banyak dari kami terlihat sumringah, serta wajah berseri-seri, penasaran seperti apa rasanya belajar di Singapura nantinya.

Setelah saya mendarat di bandara Changi yang bersih nan wangi, saya pun langsung diantar ke tempat tinggal saya selama satu tahun ke depan, dan setelahnya saya coba mengeksplorasi tempat di sekitar saya tinggal.

Lalu beberapa hari kemudian, hari saya bersekolah di Singapura pun tiba.

Saya ditempatkan (sendirian) di salah satu sekolah co-ed yang cukup terkenal di Singapura, dengan fasilitasnya yang super lengkap. Saat orientasi dan berkeliling sekolah, saya membayangkan diri saya menikmati semua fasilitas sekolah tersebut selama setahun ke depan.

Di sekolah tersebut, saya berteman baik dengan dua orang, sebut saja L (laki-laki, asal Singapura) dan Z (perempuan, asal Tiongkok). Bersama mereka berdualah, saya belajar dan berpetualang lebih dalam seputar Singapura.

Pernah suatu ketika, saya mengajak mereka berdua datang ke tempat saya tinggal, lalu saat tengah mengobrol bersama mereka, saya nyeletuk ke mereka berdua, “kenapa, ya, kolam renang di sini jarang ada yang pakai?”

Mereka pun lantas menjawab dengan tegas: “tak ada waktu untuk itu.”

Saat itu, saya bingung mendengar jawaban mereka. Mengapa tak ada waktu? Kalau di Indonesia, kolam renang sebegini bagusnya nggak bakal dianggurin kosong begini. Kok, di Singapura bisa seperti ini?

Di akhir periode saya bersekolah di sana, saya pun akhirnya paham jawaban mereka berdua.

Ya, mereka tak ada waktu untuk itu. Tak ada waktu untuk bersenang-senang di negara ini.

Sekolah memang baru mulai pukul delapan, namun pukul enam, di saat langit Singapura masih gelap, siswa sudah mulai berdatangan. Mereka bersekolah sampai sore dengan berbagai macam materi pelajaran yang jauh lebih kompleks daripada materi pelajaran dalam negeri. Belum lagi tambahan kegiatan klub hingga malam bagi mereka yang mengikuti klub. Lalu, setelah kegiatan klub selesai, ada lagi les serta pekerjaan rumah yang harus dikerjakan, serta belajar hingga dini hari, demi mengejar nilai sempurna. Begitu seterusnya. Berenang di kolam renang, bermain di taman, apa itu?

Selama setahun di sana, waktu bermain saya bisa dihitung dengan jari. Saya hanya sekali ke Sentosa (dengan Universal Studio-nya), sekali ke Merlion untuk foto-foto dengan L dan Z, dan dua kali ke Orchard Road. Saya lebih banyak menghabiskan waktu mengejar transportasi umum, di sekolah serta perpustakaan, dan sesekali ke Bras Basah untuk mencari art supply dan buku bekas. Hampir tak pernah terpikir di saya untuk bersenang-senang, apalagi berbelanja.

Lalu, warga Singapura pun tak seramah yang saya temukan di Changi Airport. Orang-orang di sana, terutama orang dewasa saat itu jarang saya lihat berekpresi. Ekspresi mereka datar. Mereka sibuk dengan dirinya serta kegiatannya masing-masing. Pengalaman saya yang berkesan di sana adalah saat saya pulang dari Bras Basah bersama Z dan kami kehujanan. Saat kami berdua meneduh, ada seorang bapak memberikan potongan karton untuk dipakai menggantikan payung. Lalu, saya bersama Z lantas berlari dengan karton di atas kepala, menuju halte bus. Keramahan yang jarang saya temukan di Singapura.

Lalu, setahun berjalan di sana dengan segudang pengalaman menyenangkan dan tak menyenangkan, tiba saatnya saya untuk kembali ke tanah air. Pengalaman saya saat di Singapura tak akan saya lupakan.

#Note

Saya bermain Monster Hunter Portable 3rd untuk pertama kalinya!

Sebelum ini, saya sudah pernah bermain Monster Hunter Freedom Unite (MHFU) selama ratusan, atau bahkan ribuan jam gameplay (saya sudah bermain MHFU sejak 2010, dikala masih punya PSP).

Saya agak kagok main MHP3rd ini. Mungkin karena baru pertama kali.

Maps serta monster yang tak familiar, ditambah lagi beberapa translasi yang tak sempurna (ya, tak ada English version untuk game ini. Hanya mengandalkan fan translation), membuat saya kebingungan harus mulai dari mana.

Saya akan main pelan-pelan saja. Quest demi quest. Yang penting saya menikmatinya.

#Note #Games #PSP #MHP3rd

Di minggu lalu, ada pertanyaan menarik yang masuk, kira-kira seperti ini:

“Di dunia yang tampaknya semakin memburuk, bagaimana kamu akan menjalani hidup, dan apa proses berpikir yang kamu gunakan untuk membuat hidupmu terasa tidak terlalu menyedihkan?”

Mungkin saya bakal kilas balik sedikit.

Saat saya masih berumur 20-an, saya merasa bahwa saya tak menikmati hidup saya sepenuhnya.

Saya menghabiskan setengah dekade 20-an saya dengan berkuliah lama (karena saya tak pintar) serta mencari pekerjaan (yang tak mudah). Tidak hanya itu, saya pun menghabiskan hampir setengah dekade 20-an saya dengan masalah mental, yang menyebabkan saya harus ke Psikiater tiap bulannya sampai dengan saat ini.

Efek sampingnya, saya jadi tak bisa mengingat hal-hal kecil atau kejadian yang sudah terjadi di saat saya masih berusia 20-an. Saya tak ingat sama sekali apa yang sudah terjadi saat tahun 2012 hingga 2022, selain kuliah, mencari pekerjaan serta pandemi.

Namun, hal yang saya masih ingat saat saya masih berusia 20-an adalah bagaimana saya tak bisa menjadi diri saya sendiri. Seringkali saya harus berbohong agar bisa diterima oleh orang lain, serta bagaimana saya mencoba untuk menyenangkan semua orang. Seperti itulah kehidupan saya pada usia 20-an: memakai topeng serta kepribadian palsu agar saya dapat diterima oleh orang lain.

Saat memasuki usia 30-an, saya memutuskan untuk mencoba menikmati setiap momen dalam hidup saya, sekecil apapun. Saya mencoba untuk jujur, apa adanya kepada orang lain. Saya mengapresiasi setiap pertemuan dan perpisahan pada orang-orang yang saya temui. Saya tak lagi memikirkan “Apakah saya diterima dengan baik olehnya?” dan lebih ke “Diterima dengan baik atau tidak olehnya, ya sudahlah. Saya sudah berusaha semampuku.” Intinya, kalau saya suka dengan seseorang saya akan katakan langsung, kalau tidak suka saya akan mengatakan alasannya atau lebih baik menghindar darinya. Selain itu, saya mengapresiasi keluarga saya serta teman-teman saya yang masih bertahan dengan saya sepenuh hati, dan support mereka semampu saya jika mereka membutuhkan bantuan.

Saya yang sekarang pun tak lagi ambil pusing setiap kali saya mengambil keputusan dalam hidup. Inilah yang saya pelajari setelah berkonsultasi ke Psikiater selama hampir satu dekade. Saya memutuskan untuk berpikir secukupnya dan tak berpikir terlalu jauh ke depan. Tentu berpikir ke depan itu penting, namun terlalu memikirkan hal-hal yang bakal terjadi ke depannya, terutama hal buruk, justru membuat saya cemas dan membuat saya takut mengambil keputusan, serta akhirnya tak melakukan apapun. Saya selalu mengingatkan kepada diri saya sendiri bahwa masa depan yang kelihatannya buruk belum tentu akan terjadi, jadi nikmatilah momen saat ini sebaik mungkin.

Sekian.

#Note

Beberapa hari belakangan ini, saya ingin sekali menulis di blog namun tak ada satupun ide yang muncul di kepala.

Sampai pada hari ini, saya memutuskan untuk melontarkan pernyataan di Fediverse seperti ini:

“Ask me a question, and I'll answer on my blog.” (Tanyakan saya sebuah pertanyaan, dan saya akan jawab di blog.)

Tak lama setelahnya, ada pertanyaan masuk (akhirnya!) dari seseorang.

Pertanyaannya adalah:

“How you discover Fediverse?” (Bagaimana saya menemukan Fediverse?)

Saya menemukan Fediverse pada awal tahun 2020, atau pada saat pandemi dimulai. Saat itu, saya sangat lelah sekali melihat berita mengenai pandemi di Twitter dan Instagram. Awalnya, saya coba beristirahat dengan tak melihat sosial media selama beberapa hari, namun hal tersebut ternyata tak cukup menyingkirkan rasa lelah saya. Di bulan April 2020, saya pun memutuskan untuk menghapus semua sosial media mainstream saya (seperti Twitter dan Instagram) dan mencari alternatif. Berkat website Privacy Tools, saya pun menemukan Mastodon.

Awalnya, saya cukup kebingungan memilih server atau instance mana yang harus saya gunakan. Pada akhirnya, saya pun memilih Minoh-don sebagai instance pertama saya karena di sana tak seramai mstdn social, misalnya.

Sudah lima tahun lebih sejak saya bergabung di Fediverse. Selama jangka waktu tersebut, saya sudah berpindah instance beberapa kali (ya, saya instance hopper). Selain itu, saya berkenalan dengan banyak orang baik di Fedi, bahkan ketemu dengan beberapa diantaranya in real life. Akhir kata, saya merasa nyaman di sini (Fediverse), dan saya tak menyesali dengan keputusan saya.

#Note

Sudah hampir dua bulan saya meninggalkan ibukota, mencari penghidupan yang lebih baik.

Saya memutuskan untuk keluar dari ibukota awal Juli lalu karena mencari pekerjaan di sana sangatlah sulit sekarang ini.

Ini bukan kali pertama saya merantau.

Sejak remaja hingga saat ini, saya sudah beberapa kali merasakan tinggal di daerah lain dalam waktu lama—mulai dari Makassar di Sulawesi Selatan, Samarinda dan Balikpapan di Kalimantan Timur, hingga negeri tetangga, Singapura.

Saat ini saya berada di suatu desa kecil di Sulawesi Selatan.

Dua minggu setelah pergi dari ibukota, saya mengikuti tes kesehatan di sebuah perusahaan, dan saat ini saya sedang menunggu hasil tes kesehatan saya, sebelum saya tanda tangan kontrak dan mulai bekerja.

Jauh dari rumah, ibukota, dan segala kepraktisannya, semata-mata untuk hidup yang lebih baik nantinya.

Semoga saya baik-baik saja di sini.

#Note

Kemarin, saya sudah bercerita mengenai perjalanan saya bersama KM Labobar dari Jakarta sampai Makassar.

Kali ini, saya akan melanjutkan cerita saya saat berada di pelabuhan Makassar. Pengalaman yang tak menyenangkan.

Kronologinya seperti ini:

Saya tiba di pelabuhan Makassar pada hari Jumat (4/7), tengah malam.

Pada perjalanan kali ini, saya membawa dua tas, satu tas berukuran besar serta tas berukuran sedang. Saat turun, saya langsung membawa kedua tas tersebut (walau dengan susah payah). Saat di tangga, turun dari kapal, ada satu kuli pengangkut barang bersikeras ingin mengangkut tas besar saya, namun saya tolak karena saya masih bisa angkat sendiri. Namun, bukannya pergi si kuli tersebut malah seenaknya mengambil tas saya (sambil marah-marah ke saya), menaruhnya di mobil pengangkut barang, dan mobil tersebut pergi ke area luar pelabuhan. Saya sampai teriak-teriak untuk memberhentikannya, namun tas besar saya tetap diangkut ke luar pelabuhan.

Pasrah, saya pun bergegas mengambil tas saya di area luar pelabuhan. Di depan, jemputan yang saya sudah pesan pun telah datang dan saya pun memerintahkan sang supir untuk ke area luar pelabuhan untuk mengambil tas saya. Saat si supir menyalakan mesin mobil, mobil saya dicegat oleh seorang preman yang meminta “tarif masuk pelabuhan” sebesar 100 ribu Rupiah. Saya yang sudah capek ingin sekali marah-marah, namun teringat kalau preman di Makassar terkenal kasar, bawa kerumunan atau teman, dan suka bawa senjata tajam. Karena saya melihat cukup banyak preman di sana (dan daripada saya terluka), saya pun pasrah saja sambil merogoh seratus ribu Rupiah di kantong dan pergi dari sana.

Saya tak dipalak sampai di situ, karena saat di luar area pelabuhan saya pun kembali dipalak oleh kuli pengangkut barang sebesar seratus ribu Rupiah. Saya protes, karena saya tak menyuruh mereka untuk mengangkut barang saya. Namun, karena saya kalah jumlah (saya sendirian di sana), jadi saya kembali merogoh uang seratus ribu di kantong.

Sejauh ini, sudah 200 ribu Rupiah melayang.

Setelah mengambil tas besar saya, saya pun bilang ke supir untuk keluar dari sana. Akan tetapi, saya pun kembali dicegat oleh satpam dan kembali dimintai uang sebesar 15 ribu Rupiah. Uang buat keluar pelabuhan, katanya.

Jika ditotal, uang sebesar 215 ribu Rupiah melayang untuk si preman, kuli, dan satpam di pelabuhan Makassar.

Sepertinya nggak lagi-lagi saya turun kapal di pelabuhan di Makassar. Lain kali, saya bakal naik pesawat saja kalau ke Makassar (walau tarifnya lebih mahal). Saya berharap pelabuhan Makassar ini bisa disidak oleh aparat yang berwajib, jadi orang-orang merasa aman dan nyaman saat berada di pelabuhan Makassar, bukannya stres sambil misuh-misuh.

#Note #Traveling