ひとりワンルーム

Note

Jika kalian diberi kesempatan untuk mengunjungi Indonesia bagian tengah atau bahkan bagian timur, transportasi manakah yang kalian pilih?

Tentunya, setiap orang memiliki preferensi masing-masing, tak kerkecuali dengan saya.

Kalau saya, jika harga tiket pesawat sudah dirasa terlalu mahal namun saya punya banyak waktu luang, saya akan memilih naik kapal laut.

Dan itulah yang saya lakukan pada minggu lalu.

Minggu lalu, saya menaiki kapal milik Pelni, yaitu KM Labobar dengan rute Tanjung Priok, Jakarta ke Makassar, Sulawesi Selatan. Perjalanan saya dimulai pada tanggal 1 Juli dan berakhir pada tanggal 4 Juli tengah malam.

Saya membeli tiket kapal sekitar satu minggu sebelum keberangkatan. Karena saya memilih untuk berangkat ke Makassar pada awal bulan Juli, saya pun memilih KM Labobar yang berangkat pada tanggal 1 Juli.

Alasan saya naik kapal laut kali ini sangatlah simpel: ini bukanlah pertama kalinya saya naik kapal milik Pelni. Terakhir kali saya naik kapal Pelni adalah pada tahun 2019, di mana pada saat itu tiket pesawat sedang mahal-mahalnya. Selain itu, saya tergoda dengan promo diskon 50 persen dari Pelni untuk semua rute hingga akhir Juli 2025, dan saya tak ada masalah jika harus menghabiskan waktu tiga hari di perjalanan. Jika harga tiket naik pesawat dari Jakarta ke Makassar saat ini mulai dari 1.3 juta Rupiah, saya mendapatkan tiket kapal laut kali ini seharga 287 ribu Rupiah saja. Empat kali lipat lebih murah.

Setelah membeli tiket kapal, selama seminggu saya pun riset sedikit mengenai KM Labobar. Yang saya ketahui, KM Labobar dibuat pada tahun 2003 di Jerman dan dioperasikan oleh Pelni pada tahun 2004. Jadi sudah sekitar 21 tahun KM Labobar berlayar. Usia kapal ini termasuk muda dibanding kapal Pelni lainnya yang sudah berumur 30 atau bahkan 40 tahun. Selain itu, kapal ini berkapasitas sekitar 3000 hingga 4000 penumpang dan termasuk salah satu kapal dengan kapasitas terbesar milik Pelni.

Setelah membeli tiket dan riset, saatnya berangkat!

1 Juli (Hari Pertama)

Sekitar pukul 9:30, saya sudah sampai di Pelabuhan Tanjung Priok untuk menukarkan bukti pembelian tiket saya dengan boarding pass. Lalu, dua jam setelahnya saya pun memasuki KM Labobar.

Boarding pass dengan logo dan desain baru Pelni.

Kesan awal saya sesaat setelah memasuki KM Labobar adalah kondisinya yang terlihat kumuh. Ranjang yang kotor dan lengket, coretan vandal di dinding serta langit-langit dek, kecoa yang jalan kesana-kemari, lantai basah yang tidak dipel, hingga toilet yang bau membuat saya cukup syok. Kukira karena kapalnya termasuk “baru,” jadi setidaknya agak bersih dibandingkan kapal yang saya naiki sebelumnya. Nyatanya tak demikian, rupanya.

Awalnya saya menempati bagian depan di dek 2 kelas ekonomi, namun karena udaranya pengap dan bau, AC-nya pelan, serta saya mual lama-lama di sana, saya pun mencari ranjang kosong di dek 5 pada kelas yang sama. Setidaknya di sana ada jendela, udaranya tak sepengap di dek 2, dan AC-nya cukup sejuk.

Tempat saya di dek 2, sebelum pindah ke dek 5.

Tempat saya di dek 5.

Pukul 12:30, saya pun solat di masjid yang terletak di dek 7. Dari semua fasilitas kapal yang ada, mungkin fasilitas masjid-lah yang terbaik. Tempat wudhu bersih, area solat berkarpet, serta AC-nya sejuk membuat saya betah lama-lama di sini.

Pemandangan Pelabuhan Tanjung Priok dari dek 7 KM Labobar, 30 menit sebelum keberangkatan.

Sekitar pukul 13:00, KM Labobar pun berangkat dari Jakarta menuju Surabaya. Perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya ditempuh dalam waktu sekitar 25 jam.

Karena kapal berangkat pada siang hari, para penumpang belum dapat diberikan makan siang oleh petugas. Sekitar satu jam setelah kapal berangkat, saya pun menyeduh cup noodle di dek 4, tempat air panas berada, namun satu jam setelahnya saya pun merasa mual, mungkin karena ini kali pertama saya makan cup noodle lagi setelah sekian tahun lamanya. Saya pun minum obat maag dan kembali tidur di ranjang saya hingga waktu makan malam.

Saat waktu makan malam tiba, saya hanya duduk di atas ranjang saya sambil menyantap bekal yang saya bawa dari Jakarta, tanpa pergi ke dapur kapal untuk mengambil makan malam. Setelah saya makan, petugas mulai datang untuk memeriksa tiket para penumpang, dan setelahnya saya kembali tidur.

2 Juli (Hari Kedua)

Hari kedua, kondisi saya mulai membaik. Saat subuh, saya pergi ke masjid untuk solat dan setelahnya saya menikmati sunrise di dek 7. Setelah puas menikmati pemandangan, saya pun mengambil boarding pass saya dan pergi ke dapur yang berada di dek 4 untuk sarapan. Menu sarapan di hari kedua adalah nasi putih dengan ayam lada hitam, sosis dan kerupuk, beserta air mineral dan susu UHT.

Menu sarapan pada hari kedua.

Pukul 14:30, kapal pun sandar di Surabaya. Saat berangkat dari Jakarta penumpang di kapal belumlah banyak, namun begitu di Surabaya keadaan berubah 180 derajat. Hampir semua ranjang terisi penuh di semua dek—bahkan saking penuhnya beberapa penumpang lebih memilih untuk tidur di lorong atau dekat tangga.

Pukul 19:00, kapal berangkat menuju Makassar, tujuan saya. Menu makan malam di hari kedua adalah nasi putih dengan ayam lada hitam (lagi), sayur tumis, dan daging giling(?), beserta air mineral.

Menu makan malam di hari kedua.

3-4 Juli (Hari Ketiga)

Di hari terakhir ini, saya berkenalan dengan rombongan yang terdiri dari ayah, ibu, serta kedua anaknya yang masih SD. Ia naik dari Surabaya dan berencana turun di Papua. Anaknya senang sekali bermain dengan saya. Kami bertiga pun bermain lego hingga main gim di Nintendo DS yang saya bawa. Selain keluarga tersebut, saya pun juga berkenalan dengan seorang santri yang kebetulan juga turun di Makassar. Kami pun mengobrol banyak hal, dan mendapati bahwa ia cukup sering bepergian, bahkan ke luar negeri.

Menu sarapan dan makan malam di hari ketiga.

Tak banyak hal yang saya lakukan pada hari terakhir ini. Sore hari, saya pun beres-beres barang bawaan saya dan memastikan tak ada barang yang tertinggal.

Sekitar pukul 00:00, kapal pun sandar di Makassar. Dengan demikian, perjalanan saya bersama KM Labobar pun berakhir.

Foto bagian depan KM Labobar saat sandar di Pelabuhan Makassar.

Kesimpulan

Buat saya, tak semua orang bakal betah naik kapal milik Pelni, apalagi kalau perjalanannya jauh dan makan waktu berhari-hari.

Kondisi kapal Pelni itu mirip seperti kereta api jarak jauh di era 90-an akhir hingga 2000-an awal—sebelum pak Jonan mengubah wajah perkeretaapian seperti sebagus sekarang. Kumuh dan seadanya. Saya berharap transportasi kapal laut, terutama dari kapal Pelni lebih diperhatikan oleh pemerintah dan bisa dirombak penuh menjadi lebih baik seperti halnya kereta api.

#Note #Traveling

Beberapa hari yang lalu, saya melihat salah satu cuplikan acara televisi Jepang yang mewancarai salah satu mantan idol yang sudah memasuki usia 30-an. Di acara tersebut, ia bercerita bahwa ketika ia graduate (atau berhenti dari aktivitas idol) di akhir usia 20-an, ia ingin sekali untuk menikah, bahkan sampai di tahap desperate. Namun, ketika ia memasuki usia 30 tahun dan masih belum memiliki pasangan, niatnya untuk menikah pun perlahan sirna, seperti balon yang kempes.

Pengalaman sang mantan idol rasanya cukup relate dengan saya.

Di awal hingga pertengahan umur 20-an, saya fokus untuk kuliah dan bekerja. Saya hampir tak pernah kepikiran untuk mencari pasangan di kampus maupun di tempat kerja. Namun, ketika akhir 20-an, di saat teman dan rekan sebaya satu per satu memiliki pasangan hidup lalu menikah, saya pun ikut mencari pasangan hidup, mulai dari dikenalkan teman hingga bergabung di aplikasi dating. Akan tetapi, usaha tersebut tak membuahkan hasil sama sekali, entah karena gaya hidupnya yang terlalu glamor dari perspektif saya, obrolan serta pemikiran kami berdua yang tak sejalan satu sama lain, atau yang lebih parah: di-ghosting.

Sudah beberapa tahun berlalu sejak saya memasuki usia 30-an, dan keinginan untuk mencari pasangan pun pelan demi perlahan sirna, sama seperti mantan idol di acara TV tersebut. Saya pun menghapus akun aplikasi dating saya karena dirasa tak berarti.

Sekarang, saya sudah pasrah.

Saya berharap, semoga Tuhan dapat mempertemukan saya dengan seseorang yang terbaik buat saya di masa depan, yang entah kapan. Atau, jika keinginan tersebut tak dikabulkan, setidaknya saya tak mati dalam kesepian.

#Note

Saat SD, saya ini termasuk anak yang malas belajar (dan juga malas mengerjakan tugas). Sungguh.

Sepulang sekolah, saya pasti main ke rumah teman atau rental PS untuk bermain gim PlayStation One (PS1). PR? Tidur siang? Apa itu?

Sore harinya, saya pun kembali bermain bersama teman untuk main bola sepak di jalanan dekat rumah atau dekat masjid hingga azan magrib berkumandang. Malamnya, saya menonton anime favorit saya (di Lativi dan juga TV7).

Intinya, saya cukup menikmati masa kecil saya.

Sampai pada kelas 5 SD, saya dipertemukan oleh seorang guru yang mengubah hidup saya 180 derajat.

Sebut saja ia dengan nama “bu Elen”. Perawakan boleh paruh baya, namun semangat mengajarnya masih tinggi sekali.

Ia terkenal di kalangan kakak kelas karena ia adalah guru ter-killer di SD saya. Ia tak hanya galak, ia bahkan tak segan-segan memukul muridnya jika sang murid tak bisa menyelesaikan suatu soal, apapun pelajarannya.

Saat kelas 4 SD, banyak teman saya berdoa agar tidak diajar oleh bu Elen, tak terkecuali dengan saya.

Akan tetapi, semesta berkehendak lain. Saya pun diajar olehnya saat kelas 5.

Dari sinilah saya yang pemalas ini digembleng olehnya.

Suatu hari di bulan Agustus 2004. Saat itu pelajaran Matematika dan sedang membahas materi pembagian dengan angka ribuan hingga puluhan ribu. Saat itu, saya cukup memahami pembagian satuan hingga puluhan, namun tidak dengan pembagian dengan angka ribuan, apalagi puluhan ribu. Saya berharap agar materi ini cepat berlalu.

Nyatanya tidak demikian.

Setelah materi ini selesai dibahas, ternyata bu Elen memanggil kami satu persatu untuk mengerjakan soal di papan tulis. Jika menjawab salah, sang murid harus berdiri di depan kelas sampai kelas selesai.

Dan tiba giliran saya untuk maju dan mengerjakan soal matematika yang ada di papan tulis.

Saya pun keringat dingin, tak bisa mengerjakan soal pembagian tersebut.

Sepuluh menit berlalu, dan saya hanya terdiam, sambil sesekali menulis angka yang ngawur. Bu Elen terus menunggu.

15 menit berlalu, bu Elen pun habis kesabaran dan berkata “sudah, berdiri kamu di samping papan tulis sampai kelas selesai.”

Berdiri di depan kelas sendirian cukup membuat saya malu. Namun, saat itu saya masih belum kapok.

Keesokan harinya, bu Elen kembali menulis soal pembagian di papan tulis. Hanya saja, soal-soal ini ditujukan untuk mereka yang tak dapat menyelesaikannya kemarin. Berarti, saya masih harus maju ke depan dan berkutat dengan soal pembagian ini.

Dan tiba giliran saya untuk maju ke depan, dan saya pun tak dapat mengerjakannya. Alhasil, saya pun kembali berdiri di samping papan tulis.

Kemudian teman saya, A, maju ke depan. Sama seperti saya, ia pun tak bisa menyelesaikan soal di papan tulis.

Mungkin karena kesabaran bu Elen sudah habis, ia pun menghampiri A lalu memukulnya dengan penggaris kayu. Semua murid terkejut, termasuk saya.

Lalu ia berkata kepada A dan saya, “kalau sampai besok kalian masih tidak bisa pembagian, jangan harap kalian bisa ulangan, dan jangan pernah kalian menginjakkan kaki di kelas saya lagi. Paham?”

Saya pun mengangguk.

Setibanya di rumah sepulang sekolah, saya pun membuka buku matematika dan belajar pembagian dengan serius. Saya mencoba mengerjakan soal-soal matematika yang ada di buku, sambil sesekali bertanya kepada orangtua saya. Pokoknya sampai saya mengerti. Sambil frustrasi, bahkan menangis, saya belajar hingga malam, sampai-sampai saya melewatkan anime favorit saya.

Keesokan harinya, tentu saja saya dipanggil kembali untuk mengerjakan soal pembagian di papan tulis. Saya pun maju ke depan dan mengerjakan soal tersebut.

Walaupun agak kesulitan, namun saya bisa menyelesaikan soal tersebut dengan benar.

Bu Elen puas dengan jawaban yang saya berikan, dan saya diperbolehkan duduk kembali. Syukurlah.

Akan tetapi, teman saya, A, kembali tak dapat menyelesaikan soal di papan tulis. Ia benar-benar diusir keluar kelas dan disuruh pulang ke rumah. Bu Elen berkata ia tak boleh masuk kelas sebelum benar-benar memahami materi pembagian.

Sejak hari itu, saya memutuskan untuk belajar dengan serius. Bukan hanya di pelajaran matematika, namun juga pada pelajaran lainnya. Sepulang sekolah, saya langsung mengulangi materi yang telah saya pelajari di sekolah dan mengerjakan soal-soal yang ada di buku maupun di LKS. Saya pun juga jadi rajin mengerjakan PR. Saya tak ingin merasakan malunya berdiri di depan kelas karena tak bisa mengerjakan soal lagi. Sejak hari itu pula, frekuensi bermain saya pun berkurang, bahkan saya hanya bermain PS1 di akhir pekan saja.

Hasilnya pun mulai terlihat pada semester dua. Nilai 9 dan 10 mulai sering muncul dalam tugas-tugas maupun ulangan saya di berbagai macam pelajaran. Saya pun menutup akhir semester dua dengan menempati peringkat 8 dari 40 siswa.

Saat kelas 6, saya tak diajar olehnya namun saya memutuskan untuk tetap rajin belajar. Saya memutuskan untuk les karena saya ingin masuk ke SMP incaran saya, namun untuk masuk ke sana dibutuhkan nilai General Test yang tinggi (pada saat itu belum ada Ujian Nasional). Belajar, belajar, dan belajar. Begitulah kehidupan saya saat kelas 6 SD. Saya pun hanya bermain pada hari Minggu, itu pun jika saya sudah selesai mengerjakan PR. Saat semester satu dan dua, saya berada pada peringkat 5 dari 40 siswa; peringkat tertinggi saya selama enam tahun di SD. Tak hanya itu, saat semester dua, saya (bersama sembilan murid lainnya) mewakili SD saya untuk mengikuti lomba General Test antar wilayah Jakarta, dan sekolah kami berhasil meraih peringkat pertama. Di akhir tahun, saya pun meraih nilai General Test yang bisa dibilang bagus dan berhasil masuk ke SMP incaran saya.

Terima kasih banyak, bu Elen. Tanpa Ibu, nasib saya mungkin akan jauh berbeda daripada saat ini.

#Note

If you could have dinner with anyone who has passed away, who?

Jawaban singkat saya: pacar saya, Akemi.

Sudah hampir 15 tahun sejak ia berpulang, dan ingin rasanya bisa ketemu sekali lagi dengannya.

Tak haruslah kami makan di tempat mewah. Cukup dengan makan malam dengan menu mie ayam di pinggir jalan, rasanya sudah cukup. Seperti dulu. Saya yakin ia bakal mau.

Saya ingat terakhir kali ia ke Jakarta di tahun 2009, saya ajak dia main ke sekitaran Senayan, mulai dari baca buku di perpustakaan Japan Foundation, main ke Plaza Senayan, hingga jajan di 7-11. Dari siang hingga sore hari. Pada malam harinya, sebelum pulang ke rumah, kami berdua makan mie ayam di sekitaran FX. Kalau saya tak salah ingat, itulah momen pertama ia makan mie ayam.

Momen saat makan mie ayam itu masih teringat samar-samar di saya. Deg-degannya saya apakah perutnya bakal cocok dengan makanan pinggir jalan, senyum manisnya saat makan mie ayam yang menurutnya enak, lalu raut wajah lelah orang-orang sekitar yang baru pulang kerja, macetnya Jalan Sudirman, bunyi klakson-entah dari Metromini hingga mobil pribadi di sana-sini, serta bus oranye TransJakarta yang sesekali lewat. Saya kangen momen-momen itu.

Beberapa bulan kemudian, giliran saya mengunjunginya di Jepang. Ia mengajak saya makan di luar beberapa kali, mulai dari restoran cepat saji hingga makan sushi di tempat yang terlihat mewah. Namun, momen makan mie ayam bersamanya tetap tak tergantikan bagi saya.

Seandainya saya bisa makan malam bersamanya lagi.

#Note

This is the tale of the members of a Beatles cover band in Tokyo who find themselves transported back in time to 1961—before anyone had ever heard of the Beatles—and decide to take the mantle of the world's greatest rock band for themselves! But will they dare to pursue this dream until the end?

Manga ini saya temukan secara tak sengaja hari ini.

Setelah baca sinopsis manga-nya yang terdengar menarik, saya pun baca beberapa chapter.

Awal membaca, gaya gambarnya terasa familiar di saya. Setelah cari tahu lebih lanjut, ternyata yang membuat manga ini adalah Kawaguchi Kaiji (serta Fujii Tetsuo). Sebelum saya baca manga ini, saya pernah baca manga karya Kawaguchi Kaiji yang lain, seperti Zipang, yang cukup terkenal di awal dekade 2000-an dan pernah terbit juga manga-nya dalam bahasa Indonesia. Kalau kalian suka dengan Zipang, rasanya bakal suka juga dengan We are The Beatles (atau 僕はビートルズ) ini.

Karena manga ini tak panjang, mari saya lanjut baca sampai habis.

#Manga #Note

“Tepat hari ini, tanggal 25 Februari 20 tahun yang lalu... Aku berpisah dengan cita-citaku.”

-Nobisuke Nobi, Ayah Nobita (dalam komik Doraemon)

Di tanggal 25 Februari, Nobisuke Nobi, Ayah Nobita, memutuskan untuk berpisah dengan cita-citanya dan melanjutkan hidup sebagai pegawai biasa.

Sementara saya, pada hari ini, tanggal 27 April 2025, saya memutuskan untuk berpisah dengan cita-cita saya sebagai seorang Engineer dan hidup sebagai warga biasa.

Hal ini bukan tanpa alasan.

Mungkin saya harus kilas balik sedikit mengenai hidup saya.

Saat SD hingga SMA, saya bercita-cita ingin menjadi seorang Arsitek karena pada saat itu saya senang sekali menggambar latar belakang, seperti rumah maupun gedung. Sayangnya, cita-cita tersebut pupus karena orangtua saya tak mengizinkan saya menjadi seorang Arsitek. Ia merasa bahwa saya lebih cocok menjadi sebagai seorang Engineer di perusahaan migas. Terlebih lagi, pada saat itu harga minyak dunia sedang tinggi-tingginya.

Saya pun terpaksa menuruti keinginan orangtua saya dan kuliah di teknik perminyakan karena merekalah yang membiayai kuliah saya.

Saat kuliah, nilai-nilai saya jelek, busuk malah. Bahkan, IP saya pernah nasakom alias satu koma pada suatu semester. Saya hampir drop-out dari kuliah sebelum pada akhirnya saya diajar oleh dosen Geologi yang membimbing saya kembali ke jalur yang benar. Namanya adalah “dosen S.” Ia tak hanya mengajari seluk-beluk Geologi, namun juga mengajari tentang kehidupan. Sejak diajar olehnya, saya mempunyai impian baru: menjadi seorang Geologist. Selama semester itu, saya berusaha keras keluar dari keterpurukan dan pada akhir semester saya mendapatkan IP tiga koma, dengan nilai Geologi yang bisa dibilang hampir sempurna.

Akan tetapi, di semester berikutnya dosen S memutuskan untuk berhenti mengajar dan kembali bekerja di luar negeri.

Berkat dosen S, semangat saya tak padam, bahkan makin menyala. Pernah dalam beberapa semester saya mendapatkan IP 4: sempurna. Semua mata kuliah bernilai A.

Di semester akhir, saya menghadapi beberapa hambatan. Mulai dari sulitnya mencari data untuk tugas akhir, hingga diremehkan oleh seorang doktor yang bekerja di sebuah lembaga, hanya karena saya mengambil tema tugas akhir yang bisa dibilang sulit, dan meragukan saya bisa menyelesaikannya. Tentu, pada saat itu saya menangis, tetapi saya masih tak mau menyerah. Saya kembali mencari di tempat lain selama enam bulan sebelum pada akhirnya saya sukses mendapatkan data untuk tugas akhir.

Di kampus, saya dibimbing oleh “profesor R” dengan sangat baik. Saat sidang tugas akhir, saya hadapi semua pertanyaan dari penguji tanpa hambatan, dan di akhir sidang saya mendapatkan nilai A. Pada akhir semester tersebut, IPK akhir saya hampir menyentuh angka 3.5, serta penelitian tugas akhir saya dipublikasikan ke dalam jurnal teknik perminyakan. Tak hanya sampai di situ, beberapa bulan setelahnya, atas rekomendasi profesor R saya ditugaskan untuk membantu Engineer lain untuk mengerjakan proyek pengembangan lapangan di salah satu wilayah di Indonesia. Itu adalah pekerjaan pertama saya di dunia migas. Saat itu, saya optimis sekali akan masa depan saya.

Akan tetapi semuanya berubah saat pandemi datang.

Di awal pandemi, proyek yang saya ikuti pun berakhir. Tak lama setelahnya, profesor R wafat. Entah harus apa, saya pun terus melanjutkan hidup setelahnya. Cari lowongan kerja kesana-kemari, hingga belajar skill baru yang entah bakal berguna atau tidak di kemudian hari. Semua demi bertahan hidup.

Namun saat ini, api bernama passion itu telah padam dalam diri saya. Di hari ini, tanggal 27 April.

Mencari pekerjaan yang sesuai dengan skill saya sangat sulit sekali. Kebanyakan lowongan saat ini hanya mencari orang daerah, atau orang dengan pengalaman kerja yang mentereng, serta memiliki sertifikasi yang biayanya tak murah, jadi perusahaan tidak perlu repot-repot mengeluarkan biaya tambahan. Serta yang lebih parah: merekrut orang dari anggota keluarga atau kerabat sendiri. Saya merasa tak punya kesempatan untuk mengembangkan diri.

Orang bilang, cobalah mencari kerja dengan sistem WFH. Saya pun sudah melakukannya, namun ternyata WFH tak semudah yang dibayangkan kebanyakan orang.

Apa yang saya telah pelajari seakan tidak ada artinya.

Namun, hidup terus berjalan, dan tak terasa sudah lima tahun sejak pandemi.

Saya pun kembali melangkah di jalur kehidupan, sebagai orang yang biasa-biasa saja, tanpa cita-cita atau tujuan di depan mata.

#Note

Kamera Lomo LC-A+ 35 mm.

Saya kenal kamera ini pertama kali pada saat saya mengunjungi Lomography Store di bilangan Jakarta Selatan bersama teman, circa 2009.

Saya jatuh cinta pada pandangan pertama pada kamera ini.

Kamera ini adalah salah satu kamera yang ingin sekali saya beli, selain kamera Diana Mini yang juga merupakan keluaran Lomography. Sayangnya, harganya cukup mahal bagi saya yang masih pelajar SMA kala itu. Sekitar 1 juta Rupiah. Saya pun hanya bisa membayangkan dapat memiliki kamera ini suatu hari, dan jalan-jalan bersama serta memotret apapun yang saya suka.

Dua tahun berselang, kesempatan untuk membeli kamera ini pun datang. Tidak di Jakarta, melainkan saat berada di negara tetangga, Singapura.

Saat itu, program pertukaran pelajar yang saya ikuti di Singapura baru saja berakhir. Di minggu terakhir sebelum saya pulang ke tanah air, saya pergi ke Orchard Road untuk membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarga. Saat saya mengunjungi Tangs, secara tidak sengaja saya menemukan Lomography Store di sana. Tanpa berpikir panjang, mampirlah saya ke sana.

Saat melihat-lihat, saya pun menemukan beberapa kamera Lomo LC-A+ berada dalam kondisi masih baru, tanpa lecet sama sekali, dipajang di sana. Yang lebih mengejutkan lagi adalah harga kameranya yang jauh lebih murah dibandingkan dengan harga di Jakarta, yaitu sekitar S$100 (dengan kurs S$1 = Rp6500, kala itu). Saat itu, saya punya uang (dari keluarga dan dari sekolah) yang nilainya lebih dari cukup untuk membeli kamera impian saya ini. Namun entah mengapa, saya mengurungkan niat untuk membelinya, lalu meninggalkan toko dengan tangan hampa.

Belasan tahun kemudian, harga kamera ini naik empat kali lipat dan hampir menyentuh angka 5 juta Rupiah. Selain mahal, kamera ini pun sulit ditemukan.

Rasa menyesal karena tidak membeli pun sampai sekarang masih membekas di hati.

#Note

Saya adalah tipe orang yang lebih senang berolahraga di rumah, daripada harus pergi ke Gym.

Hal tersebut bukan tanpa alasan.

Saya punya sebuah pengalaman menyakitkan saat berolahraga di Gym, yang membuat saya enggan ke Gym lagi.

Suatu ketika, saya memutuskan untuk olahraga di Gym karena pada saat itu saya merasa tubuh saya mulai mudah lelah dan ingin tubuh saya lebih fit, serta cuaca saat itu selalu hujan, jadi saya tak bisa berolahraga di luar ruangan.

Inilah kali pertama saya pergi ke Gym, dan saya memutuskan untuk pergi pada pagi hari karena saya pikir bakal sepi.

Sesampainya di Gym (yang hanya diisi oleh beberapa orang), saat berada di kasir saya langsung ditawari apakah saya berminat buat kartu anggota atau tidak. Saya menjawab tidak usah, karena saya ingin coba-coba dulu. Saya betul-betul tak tahu apa-apa soal Gym.

Seperti tempat Gym pada umumnya, di tempat Gym yang saya datangi saat itu terdapat berbagai macam alat untuk melatih otot. Setelah melihat sana-sini, saya pun memutuskan memilih treadmill karena saya cukup suka lari dan hanya ingin tubuh saya lebih fit saja. Tak haruslah tubuh saya berotot. Asal tubuh saya fit, itu saja sudah cukup.

Saya pun berlari di treadmill selama 35-40 menit. Selama saya berlari di treadmill, ada satu orang yang cukup memperhatikan saya berlari menggunakan treadmill sambil menggunakan alat berat untuk melatih otot.

Setelah puas (dan lelah) berlari menggunakan treadmill, saya pun beristirahat. Saat beristirahat, orang yang daritadi terus memperhatikan saya tiba-tiba bilang begini ke saya:

“Kalau cuma lari buat cari keringat, nggak usah ke Gym, mas.”

Saya, yang tiba-tiba dikatai oleh orang yang tak saya kenal dengan ucapan seperti itu, langsung sedih dan sakit hati karenanya, bahkan hampir menangis di tempat. Saya saat itu pun lantas tak berpikir panjang dan memutuskan untuk beres-beres dan pulang ke rumah. Sejak saat itu, saya pun memantapkan hati untuk tak berolahraga di Gym lagi. Lebih baik saya berolahraga di rumah saja.

#Note

Dua minggu terakhir ini, saya kembali mencoba menggunakan Obsidian sebagai aplikasi note taking utama di PC, menggantikan Joplin yang sudah saya pakai selama beberapa tahun terakhir ini.

Saya tahu Obsidian pada tahun lalu secara tak sengaja saat mencari-cari blog dengan tema Digital Garden. Awalnya, saya cukup kesulitan pakai Obsidian karena UI-nya tak terlihat ramah untuk pemula seperti saya ini. Belum lagi plugin-nya yang banyak sekali, membuat saya tak tahu harus mulai dari mana.

Melihat video dari Odysseas ini, saya diingatkan bahwa niat saya untuk memakai Obsidian, yah, untuk menulis apapun yang ingin saya tulis, jadi tak usah terlalu banyak pikir soal plugins atau setup mana yang terbaik untuk pemula. Pakai saja dulu, toh di kemudian hari bakal tahu bakal butuh apa.

#Note

“Saya Menganggap blog saya ini seperti apa, sih?”

Sebelum saya membaca tulisan dari Joel Hooks, saya memperlakukan blog saya harus ditulis sesempurna mungkin agar orang-orang senang membacanya. Membangun Personal Brand, seperti Resume yang sempurna dan tertata rapih. Begitulah apa yang saya pikirkan. Namun, semakin saya memikirkan semua itu secara mendalam, bukannya memotivasi saya untuk menulis, saya justru tertekan dan takut untuk menulis.

“Berhenti menulis sempurna, dan anggap blog sebagai digital garden.”

Setelah membaca tulisan Joel Hooks (dan beberapa blog lainnya), saat ini saya menganggap blog saya sebagai digital garden. Kebun yang berisi aneka macam tulisan: opini-opini, ulasan apapun yang baru saya dapat atau ketahui, kumpulan puisi; baik yang dibuat sendiri maupun dari orang lain, atau rekomendasi lagu-lagu yang baru saya dapat. Tulisan panjang atau pendek, sempurna maupun tidak, yang ditulis dengan atau tanpa rencana. Seperti itulah. Dengan menulis apa yang saya minati dan tak harus sesempurna mungkin, saya bisa menulis dengan bebas, lepas, tanpa beban. Saya menulis dari dan untuk diri saya sendiri, dan jika orang lain suka dan terbantu dengan tulisan saya, tentu saya akan senang.

Jadi, tetaplah menulis apapun dan bagaimanapun yang kau mau.

Lebih lanjut: – https://joelhooks.com/on-writing-morehttps://joelhooks.com/digital-gardenhttps://maggieappleton.com/garden-history

#Note