ひとりワンルーム

Note

Setelah belasan tahun belajar bahasa Jepang, akhirnya saya sampai di level N3.

Di level ini, saya dapat membaca manga seperti Yotsubato! (dalam bahasa Jepang, tentunya) tanpa (atau dengan sedikit) kesulitan, dan juga buku-buku yang ditujukan untuk siswa sekolah dasar. Untuk membaca buku seperti buku novel atau nonfiksi dalam bahasa Jepang, saya masih cukup kesulitan karena masih menemukan kanji atau vocabulary yang belum saya ketahui.

“Saya ingin sekali bisa membaca novel atau buku nonfiksi dalam bahasa Jepang.”

Karena tak ingin menunggu hingga saya naik level ke N2 atau N1 untuk bisa membaca buku tersebut, saya pun menantang diri saya. Terinspirasi dari Blog Inhae, saya pun memutuskan untuk membuat project kecil, yaitu mentranslasi sebuah buku dalam bahasa Jepang ke dalam bahasa Indonesia.

Kenapa translasi buku? Dengan menerjemahkan sebuah buku, saya pun membiasakan diri untuk baca teks bahasa Jepang, mendapatkan huruf kanji atau vocabulary yang belum saya ketahui, lalu mempelajarinya. Setelah memilih-milih beberapa buku yang saya punya, saya pun memilih buku ini:

Ilse Sand's Book

Cover buku “Do You Miss Someone? How to heal a damaged relationship – or let it go,” karya Ilse Sand. Terjemahan bahasa Jepang.

Kenapa buku ini? Ada beberapa alasan. Pertama, buku ini sudah lama ada di rak buku saya (namun tak kunjung dibaca). Kedua, saya suka dengan buku-buku karya Ilse Sand, seperti Highly Sensitive People in an Insensitive World dan The Emotional Compass: How to Think Better about Your Feelings. Ketiga, buku ini tak ada dalam bahasa Inggris, jadi saya tertarik untuk baca dalam bahasa Jepang dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Saya belajar kata baru, mendapatkan ilmu yang belum saya ketahui, lalu hitung-hitung belajar translasi sekalian.

Setelah baca-baca sekilas, buku ini ditujukan oleh mereka yang telah mencapai N2 atau bahkan N1. Namun, apakah saya putus asa karenanya? Tidak sama sekali. Untungnya saat ini banyak alat bantu untuk menerjemahkan, seperti DeepL Translator atau Linguist, misalnya.

Saat menulis tulisan ini, saya sudah selesai menerjemahkan bagian kata pengantar. Saya menargetkan ke diri sendiri untuk membaca dan menerjemahkan satu halaman per hari. Pelan memang, namun tak apa. Yang penting saya senang melakukannya.

#Note

YeYe – ゆらゆら(Official Music Video)

Walaupun video musik di atas merupakan breakup song, namun saya justru lebih memperhatikan bagaimana kehidupan sang pameran perempuan yang terlihat sederhana.

Dan hal tersebut merupakan hal yang saya inginkan. Hidup sederhana dan damai.

Selama mendengarkan lagu ini, saya membayangkan diri saya dalam beberapa tahun ke depan dapat membeli sebuah unit apartemen jenis low rise, lalu menempatinya bersama pasangan dan anak, lalu hidup dalam damai bersama mereka.

Ingin sebetulnya beli rumah, namun rasanya hal tersebut sulit digapai kalau melihat kondisi saat ini, jadi saya menurunkan standar saya.

Semoga keinginan di atas bisa terwujud.

#Note

Tadi, ada kejadian menarik yang rasanya bisa untuk ditulis di sini, walaupun tulisan ini merupakan tulisan receh.

Sekitar jam 6 sore, saya pergi ke minimarket untuk membeli minuman soda dingin. Saya memutuskan membeli minuman tersebut karena cuaca sepanjang hari ini cukup panas dan saya ingin melepas dahaga dengan minum minuman manis yang ringan, bukan kopi yang dirasa cukup berat.

Saat berdiri di depan pintu minimarket, saya melihat perempuan berusia 20-an dengan hijab coklat muda berjalan keluar menuju pintu. Karena kebetulan, saya pun membukakan pintu untuknya sekalian. Ia pun berterima kasih dengan suara pelan, lalu pergi.

Setelah mengambil minuman soda yang saya inginkan, saya pun ke kasir untuk membayar. Di sana, terdapat dua orang yang kebetulan adalah ayah dan anak laki-laki lebih dulu datang dengan membawa sekeranjang penuh belanjaan. Saya pun antri di belakangnya, sambil memikirkan berapa lama saya harus menunggu, apalagi belanjaan ayah dan anak tersebut terbilang banyak. Tak disangka, ayah dari anak tersebut melihat saya dan barang belanjaan saya yang hanya sebotol minuman soda, lalu mempersilakan saya untuk membayar terlebih dahulu. “Terima kasih banyak,” kataku dalam hati.

Saat perjalanan pulang, saya terus terpikir kejadian tersebut, dan terpikir kalau kejadian tadi adalah satu kebaikan kecil yang langsung dibayar lunas oleh Tuhan.

Terima kasih banyak dan maafkan saya yang tak mengucapkan terima kasih secara langsung tadi.

#Note

Selama kalian hidup, pernakah kalian berada di situasi yang membuat kalian hampir kehilangan nyawa?

Saya pernah. Beberapa kali bahkan.

Yang pertama, saat SMA saya hampir dikeroyok oleh sekelompok anak STM saat pulang dari sekolah menuju ke rumah. Awalnya saya santai saat melihat kerumunan pelajar tersebut dari kejauhan. Begitu saya mulai mendekati mereka (karena kebetulan jalan yang saya tuju dekat dengan mereka), salah satu dari kerumunan tersebut menunjuk saya dan yang lain langsung mengejar saya. Ada yang bawa tongkat golf, gir motor yang diikat dengan ikat pinggang, dan batu. Melihat hal tersebut, saya lari sekencang-kencangnya kembali ke sekolah untuk berlindung. Sejak saat itu, saya tak pernah lagi jalan kaki sepulang sekolah dan memilih untuk naik angkot saja.

Kedua, ketika saya kuliah (circa 2012), saya dan adik saya hampir ditabrak oleh mobil kontainer dalam perjalanan menuju mal. Saat itu, saya dan adik hendak menuju ke mal di bilangan utara Jakarta.

Utara Jakarta, terutama sekitar pelabuhan, banyak sekali mobil berukuran besar berlalu-lalang dari pagi hingga malam. Saat itu siang hari, di akhir pekan yang cerah. Kondisi jalan cukup lancar. Saat itu, yang bertugas membawa motor saat itu adalah saya.

Singkat cerita, di tengah perjalanan, saya melewati jalan yang rusak dan motor saya oleng ke kiri karenanya. Di sebelah kiri, dengan tiba-tiba mobil kontainer tanpa muatan melewati saya dengan kecepatan tinggi. Jarak saya dengan mobil kontainer tersebut hanya beberapa jengkal saja. Betul-betul nyaris tergilas. Saya langsung menepi karena syok, lalu melanjutkan perjalanan tak lama kemudian. Dari kejadian ini, saya pun jadi jarang membawa motor, kecuali dalam keadaan terpaksa.

Ketiga, kejadiannya berada di Malaysia. Saat itu, bulan Februari 2014, saya berada dalam bus dalam perjalanan dari Kuala Lumpur, Malaysia menuju Singapura.

Saya berangkat dari Kuala Lumpur pada dini hari. Lalu, sekitar pukul 2:30 dini hari, bus yang saya kendarai oleng dan nyaris menabrak mobil yang ada di depannya. Karena panik, supir bus membanting stir ke kiri dan nyaris menabrak pembatas jalan. Saya (dan mungkin semua penumpang di dalamnya) syok karenanya. Bus yang saya naiki pun berhenti. Sang supir lantas mengecek sekeliling bus—luar serta dalam, untuk memastikan kondisi bus dan penumpang baik-baik saja, lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Sebelum masuk checkpoint di Johor Bahru-Woodlands, bus saya berhenti di rest area dan saya pun turun sebentar untuk ke toilet. Saat di toilet, kaki saya gemetaran hebat ketika mengingat kejadian yang baru saja saya alami. Syukurlah, di pukul 5 saya sampai dengan selamat di Singapura dan langsung tepar setibanya di kamar hotel.

Begitulah beberapa kejadian 'hampir meninggal' saya selama hidup.

#Note

Dulu, setelah saya selesai membaca buku yang saya beli, saya pasti taruh di rak buku.

Lalu, banjir datang. Buku saya pun basah dan rusak karenanya. Baiklah.

Tak hanya itu, kondisi lembap kamar—ditambah tak ada AC, membuat buku-buku saya juga menguning.

Karena sayang kalau harus mengoleksi buku dengan kondisi seperti itu, sekarang ini jika saya selesai membaca suatu buku, saya putuskan untuk dijual kembali atau saya sumbang ke perpustakaan. Yang penting, si penerima mau menjaga bukunya baik-baik.

#Note

Dear Akemi,

It’s been exactly 13 years since you left me, and I’m still having trouble believing you’re gone. Every time I think of you, I have to remind myself that you’re no longer here. I think about you so many times a day, hoping you’ll message me and say hi, but I know it’s impossible.

Someone tries to tell me that everything’ll be okay. But, will it ever? I don’t think so. I can’t imagine living the rest of my life without you here. I thought we were really close and that you’d never leave me. Not without at least first saying goodbye. I wasn’t ready for you to die. I hope you’re good in Heaven. Take care, Akemi.

-Hiki

akemi

#Note

Kak, kita ke Puncak, yuk?

Adik saya melontarkan kalimat tersebut ketika saya mencoba untuk tidur lebih awal kemarin malam.

Awalnya, saya menolak ajakan adik saya karena saya ingin rebahan di kamar saja. Namun, ketika adik saya sudah siap dan tinggal naik mobil, saya pun memutuskan untuk ikut bersamanya ke Puncak karena saya masih belum mengantuk sama sekali dan daripada bengong sampai pagi di kamar, mending pergi saja, pulang pagi, terus tidur.

Selama perjalanan, kami sempat berhenti di rest area di daerah Cibubur untuk ke toilet (karena sebelum berangkat saya minum kopi, bodohnya). Saat jalan ke toilet, saya memperhatikan kondisi rest area yang relatif sepi. Yang paling terlihat jelas adalah Starbucks yang sepi oleh pelanggan (bahkan bisa dihitung dengan jari).

Setelah beristirahat sejenak di rest area, kami pun melanjutkan perjalanan. Perjalanan ke Puncak relatif lancar, dan sedikit padat merayap menjelang tiba di tujuan: masjid Atta'awun.

Sesampainya di sana sekitar pukul satu dini hari, saya dan adik mampir ke tempat makan yang berlokasi tepat di seberang pintu masuk masjid dan memesan mie rebus rasa kari ayam dan roti bakar. Udara yang sejuk serta aroma arang dan jagung bakar entah kenapa memberi suasana menyenangkan saat makan bersama adik.

Setelah makan, kami pun masuk ke masjid untuk salat serta istirahat sejenak hingga salat subuh tiba. Akan tetapi, saya mengurungkan diri untuk istirahat di dalam masjid sehabis salat begitu melihat di dalam masjid banyak orang yang beristirahat, baik laki-laki maupun perempuan—dan memilih beristirahat di dalam mobil.

Menjelang subuh tiba, saya bangun dan mampir makan sekuteng (untuk pertama kalinya). Ternyata rasanya enak dan setelah makan badan terasa hangat karena sekuteng disajikan hangat, dan rasa jahe pada sekuteng terasa sekali. betul-betul nyaman sekali di perut.

Sekuteng

Sekuteng hangat dengan jahe.

Setelah salat subuh, kami pun langsung pulang karena tak mau terjebak dengan rekayasa buka-tutup jalur. Di perjalanan pulang, kami sempat mengalami masalah kecil pada ban mobil, namun untungnya masih dapat diperbaiki. Selain itu, perjalanan pulang cukup lancar dan kami pun tiba di rumah sekitar pukul 7:30 pagi.

Ternyata menyenangkan juga melakukan perjalanan spontan begini.

#Note

convenient

Baiklah, saya katakan sekali lagi: pulanglah dan kunjungi website kami dari komputer anda, buat akun, lalu beli tiketnya dengan debit atau kartu kredit, unduh tiketnya ke smartphone, lalu kembali lagi pada jam yang telah anda tentukan. Bagian 'mudah dan praktis' mana yang anda tak mengerti?

Gambar di atas adalah salah satu contoh 'mudah dan praktis' di era digital saat ini.

Saya pun mengalami hal yang serupa awal bulan lalu.

Di awal bulan September, saya memutuskan untuk mencabut beberapa gigi yang sudah tak tertolong di dokter gigi dekat rumah. Singkat cerita, setelah berkonsultasi lebih jauh, beberapa gigi saya harus ditangani khusus di rumah sakit dengan fasilitas yang lebih baik. Dokter gigi saya pun memberikan surat rujukan ke rumah sakit tersebut.

Karena saya tak tahu bagaimana prosedur registrasi pasien baru di sana, saya pun membuka website rumah sakit tersebut. Dan benar saja, ternyata untuk daftar kunjungan saya harus mengunduh terlebih dahulu aplikasi rumah sakit tersebut, lalu masukkan nomor kartu BPJS atau nomor kartu pasien dan pilih poli serta dokter yang dituju. Singkat cerita, saya gagal melakukan pendaftaran karena nomor BPJS saya tak terdaftar di rumah sakit tersebut, padahal saya sudah memiliki surat rujukan. Akhirnya saya memutuskan untuk datang langsung ke rumah sakit tersebut keesokan harinya.

Setiba di sana keesokan harinya, saya harus menunggu selama kurang lebih tiga jam untuk registrasi pasien baru dan daftar ke poli yang dituju. Sesampainya di poli yang dituju, saya tak langsung mendapatkan tindakan. Hanya screening gigi mana yang akan dicabut. Setelah itu, dokter mengatakan saya harus kembali lagi dua minggu lagi sebelum mendapatkan tindakan lebih lanjut.

Lalu, satu hari sebelum tanggal kunjungan berikutnya, saya mencoba untuk mendaftar di aplikasi rumah sakit tersebut. Karena sudah punya surat rujukan, serta memiliki kartu rumah sakit dan nomor BPJS, saya pikir harusnya tak ada masalah. Nyatanya, saat saya mencoba mendaftar saya menerima pesan eror yang mengatakan kalau poli saya tak terdaftar. Loh, kok begini?

Akhirnya, saya mengurungkan niat untuk cabut gigi di rumah sakit tersebut dan pindah ke rumah sakit lain yang prosedur pendaftarannya tak bertele-tele.

Di era digital sekarang ini, terutama semenjak pandemi (di mana era digital berkembang cukup pesat), kita sering mendengar “download aplikasi kita, kak” atau semacamnya pada layanan yang kita ingin gunakan.

Apa-apa harus download aplikasi, apa-apa harus registrasi dari aplikasi. Memang, ada beberapa layanan aplikasi yang memberikan kemudahan seperti aplikasi Gojek, Grab, atau aplikasi e-commerce, misalnya—di mana sebagai pelanggan kita tak perlu lagi susah-susah cari ojek dan tawar-menawar harga, serta tak harus pergi keluar untuk membeli sesuatu. Namun, kalau layanan aplikasi yang ditawarkan justru menyusahkan penggunanya (terutama pengguna disabilitas atau lansia yang tak mengerti teknologi) dibandingkan datang langsung (seperti kasus saya dan pada gambar di atas), apakah masih pantas layanan dengan aplikasi 'mudah dan praktis'?

#Note

Our life without a computer: what does it look like?

Apakah kehidupan orang-orang akan sulit jika tak ada komputer?[1]

Seandainya di kehidupan saya tidak ada komputer sama sekali, saya melihat diri saya menghabiskan waktu luang dengan membaca buku, majalah, koran, atau komik sembari minum kopi atau susu. Setiap kali saya ada uang, saya akan ke toko buku dan melihat-lihat rak toko buku dengan teliti. Lalu, ketika saya menemukan buku atau manga yang saya inginkan di rak dan harganya sesuai dengan budget saya, saya langsung ke kasir dan membayarnya. Saya akan berlangganan koran setiap bulannya dan juga berlangganan majalah tentang budaya Jepang dan majalah National Geographic (termasuk National Geographic Traveler). Tidak membaca apapun seharian penuh adalah hal yang sulit bagi saya.

Kalau saya sudah lelah membaca, saya akan menulis surat atau kartu pos ke teman terdekat. Saya membeli kertas surat dan kartu pos di toko buku dan perangko di kantor pos terdekat. Saya akan memilih desain perangko dan juga kertas surat atau kartu pos dengan hati-hati, dan berharap yang menerima surat atau kartu pos suka dengan apa yang saya pilih.

Lalu, saya melihat diri saya mendengarkan lagu lewat radio sampai saya tertidur. Kalau saya sedang suka sekali dengan salah satu lagu atau album dari suatu artis, saya akan pergi ke toko musik dan membeli kaset atau CD album yang saya inginkan dan memutarnya berkali-kali di pemutar kaset atau CD.

Kalau saya ingin menulis, saya akan menulis di sebuah buku kecil namun tebal dengan pensil mekanik yang nyaman digenggam, serta penghapus yang dapat menghapus dengan bersih. Saya akan menulis apapun yang ingin saya tulis di buku tersebut. Saya pun melihat diri saya memiliki banyak jilid buku yang telah saya tulis.

Hidup tanpa komputer pun tak selamanya nikmat.

Membeli tiket transportasi umum seperti tiket pesawat, misalnya—rasanya akan sulit. Jika keluarga ingin mudik, mau tak mau kami harus ke agen tiket dan membelinya di sana dengan harga yang mungkin cukup mahal. Kalau kehabisan tiket pesawat, kami akan membeli tiket kapal laut dan menghabiskan waktu selama tiga hari terombang-ambing di laut Jawa.

Begitupun dengan tiket konser. Kalau kehabisan tiket konser yang saya inginkan, saya mungkin akan membeli kepada calo tiket yang pastinya dengan harga mahal—atau hanya bisa melihat kemeriahannya dengan menonton beritanya di televisi atau membaca artikelnya di koran atau majalah (itupun kalau diliput).

Melamar kerja pun juga tak praktis. Saya akan mencari lowongan kerja pada kolom lowongan pekerjaan di koran harian. Jika saya sudah menemukan lowongan pekerjaan yang saya inginkan, saya akan mengirim CV serta dokumen lain yang dibutuhkan melalui pos atau saya akan datang ke perusahaannya dan memberikan CV saya secara langsung.

Rasanya itulah hal yang penting bagi saya jika di kehidupan saya tak ada komputer. Dengan segala ketidakpraktisannya, kehidupan saya akan tetap berlanjut.


[1] terinspirasi dari artikel blog rufindhi di https://rufindhi.wordpress.com/2023/10/05/if-computer-doesnt-exist-in-our-life

#Note

Dari awal bulan September sampai dengan hari ini apa saja yang telah kamu lakukan?

Kalimat tersebut terngiang-ngiang di kepala sepanjang hari ini.

Akhir bulan lalu, Psikiater saya mulai menurunkan dosis obat yang harus saya minum karena melihat kondisi saya yang mulai membaik.

Tiga hari kemudian sejak konsultasi terakhir, mood saya kembali memburuk, seakan mengatakan kalau tubuh saya masih belum siap dengan dosis obat yang baru. Saya merasa hampa—tak bisa merasakan senang ataupun sedih. Selain itu, apapun hal penting yang ingin saya kerjakan selalu terasa berat dan sulit, dan pada akhirnya saya tak melakukan apapun. Yang saya lakukan dari awal bulan sampai dengan hari ini hanyalah bermain games dan membaca buku. Saya tidak apply lowongan kerja ataupun belajar untuk JLPT N3 sama sekali. Selain itu, seminggu terakhir suhu udara serta kelembapan di tempat saya tinggal cukup tinggi, sehingga saya pun jatuh sakit. Sudah mental sakit, ditambah fisik pun ikut sakit.

Saya mulai merasa baikan hari ini. Mood mulai membaik dan kondisi fisik saya pun juga telah membaik dibandingkan kemarin. Syukurlah.

Kalau kondisi saya tetap stabil, saya akan kembali berlari seperti sebelumnya, mulai apply lowongan kerja lagi, dan belajar untuk N3 mulai weekend ini.

#Note #MentalHealth