Usia Tua dan Kesendirian

Dalam tiga bulan terakhir, Ayah saya harus menjalani perawatan di rumah sakit sebanyak empat kali.

Semua bermula di akhir Desember lalu. Saat itu Ayah saya merasakan nyeri pada pinggang belakangnya. Namun dalam beberapa minggu kemudian, rasa sakitnya menjadi semakin parah dan menjalar hingga bagian bawah tubuhnya. Saat ini Ayah saya kesulitan berjalan maupun duduk.

Selama empat kali dirawat, saya bersama adik dan Ibu bergantian menjaga Ayah yang terbaring di rumah sakit. Yang terakhir terjadi dua minggu yang lalu (dan akhirnya Ayah dapat keluar dari rumah sakit kemarin).

Di rumah sakit yang terakhir, Ayah saya dirawat di ruangan kelas tiga bersama 7 orang lainnya yang rata-rata berusia lansia. Yang membuat saya sedih adalah beberapa dari mereka yang mengisi ruangan tersebut tak ada satu orangpun yang mendampingi. Tak ada istri atau anak yang menemani mereka. Bahkan kerabat pun tak ada satupun yang menjenguk mereka. Terbaring sendirian, tak berdaya. Hanya suster dan dokter saja yang sesekali mengecek mereka, memastikan mereka baik-baik saja.

Dari wajah mereka, tampak raut kesedihan, kesepian, bahkan kehilangan semangat serta harapan untuk hidup. Berat rasanya hati saya ketika mereka yang seharusnya didampingi oleh istri, anak atau bahkan cucu mereka, malah dibiarkan sendirian seperti ini. Bahkan dua hari yang lalu, salah satu dari mereka dilarikan ke ruang ICCU karena sudah kehilangan kesadaran.

Entah bagaimana mereka menjalani hidup hingga berakhir seperti ini. Selama saya di ruang rawat sambil menjaga Ayah saya, saya melihat mereka semua, berharap agar mereka semua lekas membaik dan kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu digugurkan dalam rasa sakitnya. Mereka pun berhak mendapat pendampingan yang layak di akhir hayatnya, bukan menghadapinya dalam kesendirian.

#Note