Dua Dadang yang aku kenal semenjak mengenal pemerintah Kabupaten Bandung
Kang Dadang M. Naser
Kang Dadang Supriatna anu BEDAS
Pembukaan
Dari semenjak aku masih kelas 1 SD (2010) hingga masa kuliah saat ini (2026), aku sudah melalui banyak kehidupan dalam masa pemerintahan kedua Dadang ini yang membawa banyak perubahan di tempat kelahiran aku, yakni Kabupaten Bandung.
Yang selalu aku perhatikan dari mereka ketika menjabat sebagai bupati Bandung, baik kang Dadang Naser maupun kang DS (Dadang Supriatna) yang saat ini menjabat yakni janji manis mereka yang sebenarnya masih banyak kendala dalam pelaksanaan dan hingga saat ini masih belum selesai masalah tersebut.
Kedua Dadang ini berhasil mengubah Kabupaten Bandung menjadi salah satu wilayah administratif yang mulai berkembang pesat, akan tetapi masalah birokrasi masih ada aja terjadi (yang salah bukan mereka yang menjabat, tapi para pejabat dan rakyat nya sulit koordinatif).
Masalahnya apa?
Masing-masing dari kedua Dadang ini memiliki visi misi yang berbeda-beda dalam menjalankan pemerintahannya, tetapi punya satu tujuan yang sama dalam artian luas. Salah satunya yakni infrastruktur. Selama mereka menjabat, banyak sekali perubahan yang dilakukan dalam perjalanan mereka dalam menjalankan pemerintahan yang berusaha memenuhi prinsip good governance. Akan tetapi, mereka juga masih banyak pertimbangan dalam menentukan kebijakan tertentu yang berdampak bagi warganya.
Ketika Kang Dadang Naser tak lagi menjabat sebagai Bupati, beliau tahu bahwa apa yang dikerjakan beliau saat menjabat semuanya masih ada yang belum sempurna, dan pada akhirnya beliau memutuskan untuk menjadi anggota DPR RI (dari mencalonkan hingga terpilih ketika Pemilu 2024) sebagai alat bantu untuk menyampaikan aspirasi rakyat dan usahanya yang sudah terbangun saat masih menjadi bupati menjadi bahan evaluasi yang perlu dijalani hasil evaluasi nya. Di sisi lain, beliau yang berasal dari Ciparay ini juga merupakan DKM dari masjid Al-Karomah di Ciparay.
Nah, terus bagaimana dengan Kang DS? Beliau menurut aku awalnya seperti kurang serius, tetapi setelah 2 tahun menjabat akhirnya beneran serius dalam menjalankan program yang beliau rencanakan waktu Pilbup lalu, salah satunya fokus ke infrastruktur dan program BEDAS lainnya yang beliau rencanakan. Beberapa rumah sakit dengan nama BEDAS beneran dibangun dan beberapa jalanan kampung beneran di cor. Insentif ke guru pengajian juga salah satu program beliau yang membuat warga di Kabupaten Bandung pada tertarik. Namun ya, di sisi lain masih ada ketimpangan dan pelaksanaan yang kurang matang.
Di era Kang DS, beliau juga membangun program “Bewara DS” yang sebenarnya menyediakan layanan Internet gratis di wilayah kerja dan wilayah tertentu yang ditujuk, tetapi pada nyatanya mereka hanya diletakkan di balai desa yang jarang menyediakan lounge untuk warganya menggunakan internet publik tersebut, dan juga tidak semua fasilitas milik penerintah kabupaten tercover dalam program tersebut
Jadi, evaluasi nya bagaimana buat bupati sekarang?
Kang DS yang saat ini menjabat di masa kedua, tolonglah revisi lagi apa yang sudah pernah dijalankan di masa pertama dan matangkan kembali goal dan plan yang sudah dibangun selama ini dan usahakan untuk mendengarkan aspirasi rakyat
Disclaimer kecil
Tulisan ini hanya mencatat soal pengalaman kedua Dadang ini saat menjadi bupati Bandung, tidak bermaksud untuk merendahkan mereka berdua atau berniat buruk lainnya. AKu hanya menilai dari sisi perspektif aku saja. Jika ada yang salah, mohon maaf dan hubungi aku untuk koreksi artikel ini.
All content authored by James “Jim” Ed Randson on this blog is published under the GNU Free Documentation License (GFDL). You are free to copy, distribute, and modify any content found here, provided that you comply with the terms and conditions of the GFDL, including proper attribution and the preservation of this license notice in any derivative works. For the full license text, refer to the GNU Free Documentation License.