Jim's Personal Blog

This is jimedrand's personal blog on waltuh.cyou. Writing in Bahasa Indonesia, English, and Spanish (soon).

Setiap orang terkadang mengalami rasa sakit yang dialami saat menggunakan sosial media umum ataupun fediverse, khususnya ketika mereka sedang tertekan atau terlalu lama melihat postingan orang lain yang dirasa tidak relevan dan menjijikan bagi yang melihat, disanalah muncul rasa sakit yang terpicu dari siklus stress yang dialami. Muncul rasa sakit hati yang benar-benar sakit (sakit ulu hati), sakit kepala karena kompleks nya kinerja otak ketika menangkap informasi yang sekiranya menjatuhkan, sakit perut dan diare dari dehidrasi ketika melihat sesuatu yang bukan ingin dilihat terlalu lama, dan masih banyak lagi.

Itulah psikosomatik. Aku bukan dokter, tetapi aku penyintas. Dengan kondisi disabilitas yang aku miliki, psikosomatik dari efek samping jaringan sosial memang membuat aku menjadi mudah sakit-sakit dan sering ke Puskesmas. Di sisi lain, aku memang memiliki ADHD dan impulsif, yang dimana itu penyakit lama sejak lahir. Dari sejak kecil, psikosomatik ini sudah lama ada sejak mulai berkembang dan sering menerima trauma dari orang tua karena kinerja otak aku yang lamban dan terkadang liar.

Berbeda dengan anak lain yang menikmati masa kecil dengan bermain di luar, aku lebih sering berada di rumah dan diberikan handphone untuk bermain, Disaat itu aku mulai mengenal benda elektronik. Rasa ingin tahu aku terhadap benda elektronik masih muncul hingga sekarang, bahkan pernah sampai merusak karena rasa ingin tahu yang ada di pribadi aku waktu masih balita.

Masa balita aku yakni masa emas karena pertama kali mengakses dunia internet yang belum banyak dikunjungi orang-orang saat itu, dan aku juga memiliki minat untuk bermain dengan komputer saat itu. Ini masa yang masih jauh dari jaringan sosial seperti Facebook atau Kaskus yang populer saat itu. Masa awal memiliki psikosomatik dimulai ketika aku dididik orang tua secara kasar, bahkan hingga melarang untuk mendekati minat yang justru merusak tujuan mereka mendidik aku, tetapi sejak mereka sudah tau jika aku bukan anak biasa, orang tua aku terkadang mengizinkan untuk bermain dengan hal tersebut.

Masa aku mengenal sosial media atau jaringan sosial ini yakni 2013, ketika semua masih baru masuk, aku saat itu baru mengenal dan belum bermain banyak. 2015 merupakan tahun pertama aku bermain jaringan sosial, dan saat itu masa awal aku mempelajari dunia luar. Waktu itulah yang berawal aku memulai halusinasi yang terkadang membuat misinformasi atau hal aneh lain. Internet saat itu sudah mulai ramai dan aku pun tersesat saat itu.

Halusinasi ini masih ada dan menghantui hingga sekarang, ketika aku membuat asumsi liar atau misinformasi, itu di trigger dari halusinasi yang sudah ada sejak masa lalu. Kurang lebih sudah 11 tahun memiliki hal ini. Aku jadi ingat ketika 4 tahun lalu ketika mengalami psikosomatik hebat dari terkena drama yang menyakitkan bagi aku dan aku saat itu memutuskan menjadi anonim. Saat aku mengenali fediverse, aku rasa aku menemukan dunia yang asing dan terasa sepi saat awal, tetapi sejak mendalaminya, masalah halusinasi tersebut masih ada. Banyak yang bilang jika itu merupakan perilaku yang disadarkan, padahal bagi aku yang lumpuh secara sosial bukan seperti itu, melainkan dari halusinasi yang tidak terkontrol.

Disana pun aku mengalami sakit kepala hebat dan sempai diperiksa di RSUD Welas Asih, tetapi hasil MRI dari otak aku tidak menampilkan kecacatan yang aneh di otak. Berarti aku mengalami disabilitas mental, bukan fisik. Disanalah aku merasa aku harus mengurangi frekuensi. Aku sempat berkutik mengenai kehadiran seseorang dan selalu memaksa, itu berasal dari halusinasi aku yang tidak terkontrol dan aku pun meminta maaf dan ia ingin aku menjadi orang yang lebih baik. Aku tidak bilang kalau aku disabilitas, demi menghindari drama.

Apa ada solusi untuk hal ini? Aku tidak tahu.

Well, I am back soon in early April this year because during my dormant time, I was thinking of rebranding and reshape the goal that I made before. Also, since I am leaving X, I feel that I don't think my existence there are made me famous or something. In another side, I am already give Elon Musk an big middle finger which that means I'll quit soon on his Twitter and finally I did it. Even I feel some disconnection at the time, I take the risk rather than my mental gonna be cooked and made me thinking of going to Psychiatric Hospital again.

I was thinking that I am in wrong community, and it's true. I was on wrong community at the time. As people who cannot made people entertain and I am always take anything seriously, I think I need to reshape anything and start again from zero. Also as disabled person, I need to stay away from society that harms me in any way that occurs. Also, using terms like “VTuber” or “VCaster”, it made me being minorities who have different vision. In global terms, “VTuber” are mostly entertain people by their live stream or any on-demand content that they made for entertainment purposes. Meanwhile, since I can't entertain people, I choose different path. Some few virtual content creator has taken different path and their goal seems running perfectly.

The challenge in Social way

Some of them could engage people to follow them are utilizing algorithm by active on centralized social network like Meta's Empire (Facebook, Instagram, etc.), Elon's Kingdom (X/Twitter), Bytedance's Garbage (TikTok), and more. Well, some how I couldn't survive there due to limitation that I am facing it. Also, when I realized that I have ADHD and since in real life also disconnected with current society, I don't know how to grow there and I have no idea.

Since then, I am trying to adapt with fediverse, which is combination of federated social network due to decentralization and another universe, finally I found the right place for myself to grow. Since they don't have an algorithm and any posts could be seen by everyone on fediverse, I am feel lucky that I found the right place. To understand the place that I feel like home, I learn about how ActivityPub protocol works and how difference between centralized and decentralized social network works, both from their infrastructure, ownership of the server, and social side that much different on biggest centralized social network.

I know fediverse currently have a few million active users and nearly 12 to 14 million people registered and a thousand of servers active on the network that no one owned it, but as minorities I feel safe and I could adapt there rather than on centralized social network where their black algorithm made me sick and insane. Got more following rather than followers? Not a problem. I want to build the relationship with people to people, not with masked bot.

How's my rebrand plan going on?

Yeah the older name “Everything with Jim” I decide to be an legal business name and I changed it as “Learn with Jim” where it have same goal as previous, but I decide to serve the content in English and publishing first on fediverse, before I share on YouTube for video content, Spotify and YT Music for Audiocast. I made the priorities where it called “fedi-first” where I publish the content on fediverse via Peertube under MakerTube instances for video and Funkwhale under Funkwhale Italia for audiocast (another name of podcast in audio format). Also, I want to share to anyone about FOSS, GNU/Linux, SysAdmin stuff, and anything that related to my hobbies.

That's it from me for now.

Para VTuber yang populer

Pembukaan

Sebelum aku menceritakan bagaimana aku tertarik pada dunia tersebut dan aku mendalaminya sebagai tersier, berikut ini penjelasan pendek dari Wikipedia.

A VTuber (Japanese: ブイチューバー, Hepburn: BuiChūbā) or virtual YouTuber (バーチャルユーチューバー, bācharu YūChūbā) is an online entertainer who uses a virtual avatar generated using computer graphics. Real-time motion capture software or technology are often—but not always—used to capture movement. The digital trend originated in Japan in the mid-2010s, and has become an international online phenomenon in the 2020s. A majority of VTubers are English- and Japanese-speaking YouTubers or live streamers who use avatar designs. By 2020, there were more than 10,000 active VTubers. Although the term is an allusion to the video platform YouTube, they also use websites such as Niconico, Twitch, Facebook, Twitter, and Bilibili.

Berdasarkan penjelasan diatas yang diambil dari Wikipedia English tentang VTuber, secara singkatnya itu merupakan seorang creator yang menggunakan avatar baik L2D (Live2D) atau 3D (dari yang murah seperti VRoid hingga dibuat sendiri di Blender/Unity). Sebenarnya ini tidak terbatas dari sebatas creator saja, siapapun yang ingin tampil di publik dapat menggunakan figur avatar baik bergaya VTuber maupun bergaya sesuai preferensi yang kalian mau. Trend ini berawal dari eksperimen yang dilakukan di 2011 lalu ketika Nitroplus selaku perusahan yang berfokus di pengembangan novel visual yang mengunggah konten di YouTube dengan figur yang dibuat dengan 3D yang menampilkan maskot mereka saat itu yakni Super Sonico.

Tren ini mulai populer ketika figur publik bernama Kizuna AI mulai naik daun di Jepang, yang membuat perusahaan agensi bernama Cover Corporation melalui anak perusahaan Hololive dan perusahaan agensi lain bernama Anycolor inc melalui NIJISANJI mereka. Saking populernya, ini pun membuat banyak yang berdiri sebagai independen hingga sekarang.

Bagaimana aku bisa tertarik?

Awalnya aku tertarik mengenai ini karena aku ingin mengetahui tentang tren ini yang memang menarik di sisi popularitas nya, tapi aku juga mau tau dari sisi lain yang jarang orang lihat. Dimulai dari sisi sosial hingga sisi pengembangan baik karakter maupun software yang mereka pakai, aku ada ketertarikan untuk mencari tahu soal itu. Bersama dengan temanku @runachin, aku mencari tahu tentang itu dan menelitinya, dan aku pelan-pelan bergabung ke dalamnya sebagai independen.

Di lihat dari latar belakang aku sebagai software developer, aku melihat belum ada VTuber di Indonesia yang punya latar belakang seperti @HoshinoLina yang punya latar belakang yang sama seperti aku, dan ketika aku debut secara sederhana di tanggal 20 Feb tahun lalu, aku mulai masuk ke universe yang tergolong niche ini, dan aku yang pertama dari Indonesia yang berlatar belakang software developer menjadi VTuber.

Tantangan yang di hadapi

Setelah beberapa hari aku masuk universe tersebut, aku mengamati banyak VTuber di sekitar aku yang aku lihat dari tujuan mereka hingga engagement mereka di social media sentralis yang mungkin sudah aku coba tetapi gagal karena aku minim pengalaman soal ini, tapi ketika aku masuk komunitas yang tepat, akhirnya aku dapat bergaul. Kebanyakan dari VTuber yang aku lihat itu ada tujuan yang mungkin melenceng dari tujuan awal aku masuk kesana, salah satunya yakni menghibur pemirsa. Tujuan aku masuk kesana selain mau meneliti, aku juga mau mengedukasi pemirsa dan berbagi ilmu pengetahuan, yang dimana pada nyatanya SULIT untuk dilaksanakan. Ada beberapa VTuber yang punya lore yang menarik dan terdengar mau mengedukasi, tapi nyatanya mereka tidak menjalankan apa yang mereka rencanakan dan berfokus menghibur pemirsa daripada menjalankan rencana mereka sebelumnya.

Tantangan lain yakni mencari audiens dan mencari VTuber yang punya tujuan yang serupa. Kalau soal audiens, aku hanya menargetkan kepada mereka yang mau mencari ilmu pengetahuan dan mau mencari teman untuk diskusi bersama mengenai bidang yang menarik untuk dibahas. Aku tidak punya tujuan untuk menghibur, karena aku tidak bisa menghibur orang lain.

Masalah lain yang dihadapi

Aku sendiri setelah berbulan-bulan disana dan mencoba melakukan apa yang biasa mereka lakukan (seperti live streaming), aku sebagai individu berkebutuhan khusus merasa sangat sakit ketika aku seperti berusaha untuk melakukan engagement ketika live, ya karena yang menonton kebanyakan yang aku kenal dan sebagian orang yang tertarik saja. Di sisi lain, membuat video rasanya sulit karena keterbatasan pada skill editing video yang aku miliki.

Setelah beberapa bulan aku berjalan, aku memutuskan untuk menjeda (pausing) dan menjadi dormant dahulu dikarenakan kondisi fisik dan mental yang tidak memungkin aku untuk tetap untuk seperti itu. Pada akhirnya, aku kembali mengambil fokus sebagai virtual figure untuk sementara waktu dan mulai aktif di komunitas FOSS (Free and open-source software) yang justru lebih mendukung dan aku jaga jarak pada saat itu.

Sisi baiknya yang di dapat

Dari sisi baik yang aku dapat, aku mendapatkan relasi yang punya tujuan serupa dan juga yang sama-sama paham tentang komputer. VTuber yang aku kenal seperti @Cleonium sangat menarik dan punya tujuan yang serupa, meski aku lihat pemirsa yang tertarik pada kontennya sedikit tapi itu bukan halangan baginya dan berbeda dengan aku yang halangannya dikarenakan sulitnya bergaul dengan yang lain dan sulit menarik perhatian. Aku anggap dia sebagai teman dan aku belajar dari pengalamannya.

Di sisi lain, ada orang yang udah punya pengalaman menjadi VTuber dan berniat untuk kembali jika dia mumpuni, dan dia punya hobi yang sama dengan aku terhadap komputer, aku kenalkan @y2karyl. Dia punya ketertarikan terhadap komputasi dan pemograman, dan juga terhadap perfilman. Aku belajar lebih dari pengalamannya berdasarkan apa yang aku dengar dari percakapannya dan sebagai orang yang punya hobi yang sama, aku tidak merasa sendiri saat aku kenal dia.

Strategi yang perlu penyesuaian

Dari tantangan yang aku hadapi, jika dilihat lagi ya strategi aku yang memang tidak cocok dengan audiens dari Indonesia yang memang jarang sekali yang mau cari ilmu (lebih banyak cari hiburan daripada ilmu untuk membuang penat). Dari sanalah aku berpikir untuk coba menyesuaikan dengan keaktifan aku di komunitas FOSS dengan hal niche ini, yang sebenarnya lebih populer di barat.

Dari sana aku belajar, yakni jangan berkecil hati. Aku lihat VTuber lain seperti Kylo Neko yang punya pendekatan seperti aku tapi diterima oleh netizen disana. Aku lihat lagi, memang hampir nihil jika aku lihat fandom di Indonesia yang punya ketertarikan terhadap itu.

Apakah aku akan berlanjut disana?

Aku menghadapi banyak tantangan dan ujian dari memdalami itu semua, dan aku memutuskan untuk melanjutkan begitu aku sudah kembali sehat baik otak maupun jiwa. Setelah diagnosis di psikolog, aku disarankan untuk membuat konten dengan target pemirsa yang cocok. Aku menargetkan kembali di 2026 dan mungkin aku mau berfokus membuat konten dalam English agar dapat diterima siapa saja baik dalam format podcast (audio) maupun visual (video). Darisana pun aku berencana untuk tetap mempertahan profesi aku yang lain. Mungkin sedikit rebranding bisa membantu.

Bagaimana dengan relasi di komunitas VTuber Indonesia?

Aku memilih untuk jaga jarak dan membuat relasi dengan yang aku kenal dan dapat dipercaya saja disana, dikarenakan aku seperti tidak diterima berada disana. Tapi bukan berarti aku akan bermusuhan, siapapun dapat reach aku dari sana, tapi aku tidak akan berfokus mencari audiens dari orang di Indonesia.

Bagi kalian para VTuber atau fans VTuber yang mau reach aku, boleh periksa biography aku di openSUSE Wiki dan hubungi aku melalui alamat email yang ada disana, reach aku di fediverse (mengingat waktu aku lebih sering disana), atau hubungi aku dari kontak yang aku sediakan disana.

Penutup

Mungkin itu saja yang dapat aku sampaikan di artikel ini. Artikel ini merupakan informasi berisi pengalaman dan opini aku didalamnya, jadi mohon untuk dibaca dahulu dan jika ada yang tidak dimengerti, boleh hubungi aku. Dan mohon untuk tidak membuat artikel ini viral hanya karena pendapat aku yang mungkin bersebelahan, lebih baik hubungi aku dan minta klarifikasi langsung!

Sumber

Enter your email to subscribe to updates.