Life Update: Januari-Maret 2026
Warning: mh-, suicide.
Bulan Januari hingga Februari lalu depresi berat saya muncul kembali.
Karena tahun kemarin karir saya bisa dibilang tak berjalan baik, jadi saya berpikir “semoga di awal tahun ini saya bisa mendapatkan pekerjaan kembali.”
Jadi, di bulan Januari lalu saya berusaha keras mencari pekerjaan di LinkedIn. Sudah apply kesana-kemari, namun sebulan pun berselang dan tak ada kabar sama sekali. Puluhan bahkan ratusan pekerjaan saya apply, namun hampir semuanya di-ghosting (dan hanya satu kali interview).
Lalu, bulan Februari pun datang, dan depresi saya makin memburuk.
Di bulan ini, saya sempat berpikir beberapa kali untuk mengakhiri hidup saya sendiri. Saya bahkan sudah menyiapkan peralatan-peralatan dibutuhkan untuk mengakhiri hidup saya. Saat konsultasi ke psikiater bulan itu, saya mengatakan segalanya kepada dokter saya hingga menangis, karena tak tahu harus berbuat apa. Beberapa hari setelahnya, saya pun mengatakan kepada orangtua saya bahwa saya ingin mengakhiri hidup. Sontak, orangtua saya pun menangis, baik Ayah maupun Ibu. Saya hanya diam saja mendengar kedua orangtua saya menangis saat itu. Entah apakah keputusan saya dengan mengatakan kedua orangtua saya itu tepat atau tidak, namun setelah mengatakannya saya pun mengurungkan niat saya untuk mengakhiri hidup.
Lalu, Ramadan datang. Di Ramadan kali ini, saya berniat untuk ibadah lebih khusyuk.
Namun takdir berkata lain. Ayah saya pun jatuh sakit dan sempat dirawat empat kali di tiga rumah sakit yang berbeda. Alih-alih beribadah khusyuk, saya justru menghabiskan waktu menjaga Ayah saya yang saat ini kesulitan untuk bergerak, baik itu berjalan maupun duduk. Tarawih dan solat lima waktu saya lakukan di rumah dan di kamar rawat rumah sakit alih-alih di masjid.
Lalu, di minggu terakhir Ramadan, saya pun jatuh sakit. Badan saya lemas sekali, merasa mual, serta batuk-batuk. Bisa dibilang, Ramadan kali ini rasanya lebih berat dibandingkan tahun lalu.
Dengan segala tantangan tersebut, saya berusaha semampuku dan berserah diri pada Tuhan setelahnya.
Idulfitri pun datang, dan syukurlah depresi saya berangsur-angsur pulih. Frekuensi memikirkan cara untuk mengakhiri hidup pun makin jarang.
Sekarang ini, saya merasa lebih baik. Terima kasih banyak, terutama keluarga serta teman-teman di Fedi yang selalu support saya. Terima kasih banyak.