Hiki's Lifelog

This is my life

Berikut merupakan 20 hal yang membuat saya senang (setelah saya pikir-pikir):

  • Dapat makan makanan yang disuka

Entah itu kebab, nasi goreng, sushi, ramen, atau curry, makan makanan yang disuka dapat menenangkan saya.

  • Stabil secara finansial

Walau saya masih memperjuangkan hal yang satu ini, namun punya tabungan yang cukup untuk bertahan hidup (serta dapat membeli barang kapanpun dibutuhkan), serta tak punya hutang pada siapapun, membuat hati tenang.

  • Baca novel

Tinggalkan smartphone, dan bacalah novel. Buat saya, baca novel jauh lebih menarik daripada doomscrolling sosial media, karena interaksi antar tokoh di novel banyak yang menarik perhatian, bahkan dapat membuat saya merenung dan mengubah hidup saya sebaagai pembaca.

  • Keluarga

Keluarga adalah tempat saya kembali setelah lelah beraktivitas, serta selalu menemani dan support saya di kala senang dan susah.

  • Rumah

Rumah bukan hanya sekedar tembok, atap, dengan furnitur-furniturnya. Rumah adalah tempat untuk beristirahat, berkumpul bersama keluarga, dan juga tempat di mana saya bisa menjadi diri saya sendiri sepenuhnya.

  • Khusyuk dalam beribadah

Bisa khusyuk dalam beribadah, dengan mengesampingkan (atau tanpa memikirkan) hal-hal duniawi dan hanya mengingat Tuhan adalah sebuah kenikmatan.

  • Mendengarkan lagu

Dapat mendengarkan lagu atau album yang disuka, sesuai dengan suasana hati, sangatlah menyenangkan.

  • Tidur tanpa set alarm

Adalah sebuah kenikmatan tersendiri bisa tidur tanpa mengatur alarm, jadi bisa tidur selama apa pun yang diinginkan dan bangun kalau memang tubuh betul-betul sudah merasa segar.

  • Mandi dengan air hangat

Setelah melakukan banyak aktivitas, dengan mandi air hangat rasa lelah tubuh jadi berkurang dan tidur jadi lebih enak.

  • Menghabiskan waktu sendirian

Saya adalah orang yang suka dengan kesendirian, entah itu nonton ke bioskop sendiri, atau makan di restoran sendirian. Saya malah tak nyaman kalau harus pergi berkelompok.

  • Suara rintik hujan

Konteksnya di sini adalah saat saya berada di rumah, hujan yang tidak begitu deras (jadi tak perlu khawatir banjir), tanpa suara petir yang menggelegar. Mendengarkan suara hujan, apalagi ditambah dengan membaca novel sambil minum kopi hangat sangatlah nikmat.

  • Bersepeda

Sedari kecil saya senang bersepeda. Mengayuh pedal dengan kekuatan kaki sendiri, serta menikmati pemandangan sekitar sudah membuat saya senang (walau saya hanya pergi ke minimarket).

  • Menginap di resort dengan pantai yang cantik

Walaupun saya baru beberapa kali ke resort dengan pemandangan pantainya yang cantik, namun menikmati semua itu saya sangat senang sekali, bahkan saat saya kembali ke rumah sekalipun.

  • Menyeduh (dan minum) kopi

Tools saya buat kopi di rumah simpel saja: perangkat coffee drip beserta filternya (yang saya beli di Daiso), serta kopi yang saya beli di supermarket. Lalu, kopi saya minum sebelum mengawali hari. Enaknya.

  • Kamar yang bersih

Siapa yang tak senang dengan kamar yang bersih? Barang-barang tersusun rapih, debu-debu yang menempel dibersihkan, serta kabel-kabel tak lagi terlihat acak-acakan.

  • Bepergian, sendirian

Berhubungan juga dengan poin ke-10, di poin ini bepergian yang saya maksud adalah melakukan perjalanan jauh, baik di dalam negeri maupun ke luar negeri. Saya tak suka bepergian dalam grup. Bepergian sendiri jauh lebih asik buat saya, karena tak ada yang perlu mengatur-atur saya ke mana saya harus pergi.

  • Punya teman yang dapat menerima saya

Untungnya, saya punya beberapa teman yang dapat menerima saya sepenuhnya, walau saya sudah melakukan banyak hal yang menurut saya tak baik pada mereka. Dan sebagai rasa terima kasih, saya pun sebisa mungkin juga support mereka dan menerima mereka, baik itu di kala senang maupun susah.

  • Bermain gim

Entah itu main gim di laptop, maupun di NDS, bisa main gim tanpa berpikir kalau apa yang saya lakukan hanyalah buang-buang waktu adalah sebuah kenikmantan.

  • Mendengarkan radio

Hal yang membuat saya senang saat dengar radio adalah menemukan lagu terbaru dan saya langsung suka, terlebih lagi saat penyiar memberitahukan lagu yang baru saja ia putar, jadi saya bisa cari lagu tersebut (dan bahkan membelinya).

  • Berolahraga

Berolahraga di sini adalah berolahraga dengan intensitas ringan, paling tidak 15-30 menit. Awalnya memang terasa berat, tetapi sejak membuahkan hasil, seperti jarang merasa lelah saat melakukan kegiatan harian, olahraga jadi terasa menyenangkan. Saat ini, saya melakukan olahraga ringan selama lima hari seminggu, dan dua hari sisanya saya pakai untuk beristirahat.

Sekian, dan sampai jumpa di tulisan berikutnya.

#Note #100DaysToOffload #D003Y2026

Minggu ini terasa biasa-biasa saja buat saya. Setelah World Cup berakhir (selamat, Spanyol!), jam tidur saya belum kembali seperti biasanya. Saya baru tertidur pukul 2 atau 3 pagi, bangun sejenak untuk solat subuh di pukul 5-6 pagi, dan baru benar-benar terbangun di pukul 13 atau 14 siang hari.

Di hari Jumat dan Sabtu, saya datang ke kelas Engineering yang sudah berjalan lebih dari tiga bulan. Sejauh ini, saya merasa tak paham apa-apa tentang apa yang sudah saya pelajari. Materi yang disampaikan terlalu advanced buat saya yang otaknya pas-pasan ini. Tak ada satupun ilmu yang nyangkut di kepala saya. Saya ragu bisa lulus dari kelas Engineering ini. Jangankan lulus, mid-test yang rencananya diadakan minggu depan pun saya ragu bisa dapat nilai memuaskan.

Saat ini, saya masih melanjutkan baca buku The City and Its Uncertain Walls Karya Haruki Murakami, buku yang saya pinjam di perpustakaan umum. Buku yang cukup tebal, sekitar 430 halaman. Di hari saya tak datang ke kelas Engineering, saya menyempatkan baca buku ini dengan pace 50 halaman per hari. Dan sampai dengan saat ini, saya telah membaca kurang lebih setengah dari isi keseluruhan buku ini.

Selain datang ke kelas serta baca buku, di minggu ini saya menonton beberapa dokumenter dari NHK yang berjudul A Century on Film, salah satu dokumenter yang saya suka dari NHK, bukan karena saya suka dengan sejarah, namun lebih karena saya ingin tahu lebih mendalam mengenai apa yang terjadi seabad yang lalu, terutama pada zaman Perang Dunia kedua, yang menurutku adalah tragedi terbesar dalam sejarah umat manusia. Dan dengan menonton dokumenter ini pula saya berharap para pemimpin dunia tak melakukan hal yang sama atau bahkan lebih parah di masa yang akan datang.

Sekian Weeknotes di minggu ke-30, tahun 2026.

Sampai jumpa di Weeknotes selanjutnya.

#Weeknotes #100DaysToOffload #D002Y2026

Secara tak sengaja (melihat federated timeline di Fedi), saya menemukan seseorang berhasil menyelesaikan 100 Days To Offload challenge-nya di tahun ini, dan share pencapaiannya. Buat yang belum tahu apa 100 Days To Offload challenge, di challenge ini, seorang blogger menantang dirinya sendiri untuk menulis 100 blog post dalam kurun waktu setahun. Saya pertama kali melihat challenge ini saat saya masih menulis blog di write.as beberapa tahun yang lalu, dan baru tahu detailnya saat membaca situs ini di awal minggu ini.

Sebetulnya, challenge ini bisa dikatakan cukup mudah. Anggaplah begini: dalam satu tahun ada 52 minggu. Dengan menulis blog dua kali seminggu saja, sudah bisa menghasilkan setidaknya 104 blog post (jika konsisten dan tak malas).

Dan entah kenapa saya tertarik untuk ikut challenge ini, di tahun 2026 yang kurang dari enam bulan lagi akan berakhir. Kalau dihitung secara kasarnya, untuk menyelesaikan challenge ini di tahun ini, saya harus menulis setidaknya lima tulisan setiap minggunya.

Kemudian, saya berpikir: “Apakah saya bisa menyelesaikannya?”, atau “Apakah saya punya ide tulisan setiap harinya hingga akhir tahun?”

Lalu, saya pun kembali membaca deskripsi dari situs https://100daystooffload.com berikut:

Posts don't need to be long-form, deep, meaningful, or even that well written. If there are spelling and grammar mistakes, or even if there's no real point to the post, so what? What's important is that you're writing about the things you want to write about.

Your posts could be how-to guides, or links to another post you have found interesting. They could include your own thoughts about that post, or a response to it. It could be a simple update about what you have done that day. Tell us about your dog, your cat, your fish tank, or whatever hobbies you have. Someone will find it interesting.

Tak apa menulis pendek, tanpa makna, bahkan jelek sekalipun. Tak perlu menulis sempurna selama 100 hari berturut-turut. Yang penting: Just.Write.

Sampai saat ini, yang terpikir adalah saya akan kembali menulis Week Notes setiap minggunya di akhir pekan, serta empat post lainnya dengan tema sedapatnya saat itu juga, atau dapat di tempat lain, seperti Pinterest atau Revospring.

Melalui tulisan ini, 100 Days To Offload challenge untuk tahun 2026 buat saya pun dimulai.

Berjuang!

#Note #100DaysToOffload #D001Y2026

Di awal bulan April, saya mendapatkan kabar kalau saya mendapatkan beasiswa penuh untuk sekolah spesialis. Singkat cerita, saya tak perlu mengeluarkan biaya sepersenpun selama menjalani sekolah spesialis ini hingga selesai di akhir tahun.

Lalu, di bulan April kondisi Ayah makin memburuk. Ayah hanya bisa tidur di kasur sambil menahan rasa sakit yang dialaminya. Di awal bulan Mei, Ayah kembali dirawat di rumah sakit setelah mengalami sesak napas.

Dan di tanggal 12 Mei, pagi hari, Ayah menghembuskan nafas terakhirnya.

Sebelum Ayah wafat, saya, Ibu, beserta adik saya berada di sampingnya. Ayah menghembuskan nafas terakhirnya dengan sangat tenang sekali. Saat diberitahu suster kalau bapak dinyatakan wafat, kami semua hanya bisa menangis.

Dari pertengahan Mei hingga pertengahan bulan Juni, kami semua menjalani aktivitas seperti biasanya, tanpa Ayah. Tanpa Ayah, keadaan rumah menjadi sangat sepi. Kadang kami dapat menjalani aktivitas dengan baik, dan ada kalanya kami merasa sangat berduka.

Saat saya menulis ini, saya masih merasakan duka. Mungkin duka ini tak akan sepenuhnya hilang dalam diri saya. Saya ingin terus mengenang Ayah serta kebaikan-kebaikannya selama ia hidup selama-lamanya.

Terima kasih, Ayah.

#LifeUpdate

This is a list of stores in Indonesia to get postcards, organized by region and city. I also put online shops and Indonesian postcards from outside the country. Please message me if you want to recommend a store (or online shop) in your city that sell postcards, so I can add it here. Thank you!

Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi)

Jakarta

  • Kinokuniya Grand Indonesia (Grand Indonesia West Mall, LG Floor, Jl. M.H. Thamrin No. 1, Jakarta 10310). ±Rp10,000-Rp20,000 each. Sell view cards and illustrated cards. Maps
  • Gramedia Bookstore. Mostly view cards. Available in some stores.
  • Sarinah Mall (Jl. M.H. Thamrin No.11, Jakarta). Reasonable price, ±Rp5,000-Rp15,000 each each.
  • Filateli Corner in Central Post Office Pasar Baru, Jakarta. ±Rp3,000 each. ✅
  • Pasaraya Department Store, Jakarta, on souvenir floor. ±Rp20,000 each, unreasonable price but some cards have real batik cloth.
  • Periplus. ±Rp10,000-Rp20,000 each. Available in some stores. ✅
  • Scoop and Scoop Ideas. Sell art cards. Available in some stores. ✅
  • Post Kantoor – Koffie . Art . Kultur (Jl. Cikini Raya No. 1, Jakarta). Sell illustrated cards. ±Rp15,000 each. Maps
  • Galeri Nasional Indonesia (National Gallery of Indonesia), Jakarta. Sell view and illustrated cards. ±Rp50,000 per set (2-3 postcards). Maps

Bandung

  • Pos Indonesia (Jl. Asia Afrika No. 49). Rp3,000 each.
  • Filateli Corner (Graha Pos Jl. Banda No. 30). Rp3,000 each.
  • Periplus (Jl. Dr.Setiabudi No. 42). Rp7,000 each, mostly tourist cards.
  • Books & Beyond (Bandung Indah Plaza 1st Floor, Jl. Merdeka No. 56). ±Rp10,000 each, mostly illustrated map cards from lestari_id.
  • Omuniuum (Jl. Ciumbuleuit No. 151B 2nd Floor). ±Rp10,000 each, usually small art cards probably from postcard box.
  • Kineruku (Jl. Hegarmanah No. 52). ±Rp12,000 each, usually art cards from various local artists.

Yogyakarta

Kantor Pos Besar Yogyakarta (Central Post Office)

  • Loket Filateli / Philatelic counter. Open: Mon-Sat 08.00-14.30. Selling official postcards from Pos Indonesia, but sometimes not available. Price: Rp3,000.
  • Koperasi Kantor Pos Yogyakarta (north entrance of the building). Touristic postcards,Batik postcards. Price: Rp5,000.
  • Some street vendors on the west of the post office are also selling postcard.

Around Malioboro

  • The Lucky Boomerang Bookshop (Sosrowijayan Wetan Gang 1). Touristic, black & white, real batik postcards. Price: Rp5,000.
  • Sari Ilmu Bookstore (opposite to Mall Malioboro). Touristic (Yogyakarta), there are some old ones. Price: Rp3,000.
  • Hamzah Batik. Touristic (Indonesia), vintage ad postcards. Price: Rp6,500.
  • Prapanca (near Museum Sonobudoyo). Touristic, black & white. Price: Rp6,000.
  • Toko Kembang Gulo.

Other Places in Yogyakarta

  • Togamas Bookstore (in Kotabaru & Jalan Affandi). Touristic, black & white, illustration postcards. Price: Rp5,000.
  • Yogyatourium Dagadu Djokdja. Historic transportation series postcards; great illustrations but on thin paper. Price: Rp10,000.
  • Museum Affandi. Affandi paintings. Price: Rp5,000.
  • Artlinx Store. Illustration postcards. Maps

Note: places and prices in Yogyakarta was updated in February 2020. For more information, you can visit this blog.

Denpasar

  • Tourist shops in Sanur, Bali.
  • Nacivet Art Photography Gallery Ubud.

Makassar

  • Street-vendors right outside the post office in Jl. Selamet Riyadi No.10 (selling view cards).
  • Bookstore at Sultan Hasanuddin International Airport (UPG). ✅

Online Shops

Local Shops

Online Printing

Indonesian Postcards from Outside the Country

Others

Unexpected Postcards

Events

  • Comic Frontier or Comifuro, typically held on Saturday and Sunday, bi-annually each year. Some local artists/illustrators sell their illustrated postcards in this event.
  • Artket or Art & Illustration Market. Held in Jakarta. Some local artists/illustrators sell their illustrated postcards in this event.
  • Kira Kira Art Market, also held in Jakarta. Some local artists/illustrators sell their illustrated postcards in this event.
  • Biggle or Biggle Creative Market, also held in Jakarta. Some local artists/illustrators sell their illustrated postcards in this event.
  • Semasa Piknik, held in Lapangan Banteng, Jakarta once a year. Some local artists/illustrators sell their illustrated postcards in this event.

Note:
NEW → Recently added (!) → This store has been inactive in the past 30 days or temporarily closed ✅ → Verified, I visited myself

Last updated: 24 June 2026

#Postcrossing #Postcards

Setelah gagal mendapatkan Museum Passport di Gramedia Matraman kemarin sore, hari ini saya memutuskan untuk menguji keberuntungan saya di tempat lain. Singkat cerita, kalau kalian penasaran seperti apa hasilnya (dan malas membaca, tak apa), saya akhirnya berhasil mendapatkan buku tersebut di sana.

Awalnya, saya ingin menyerah saja cari passport yang sedang viral di kalangan stamp otaku ini, namun entah kenapa saya masih penasaran sekali. Setelah memikirkan dalam-dalam sepanjang malam (niat sekali), saya memutuskan pergi ke Galeri Nasional Indonesia untuk mencari Museum Passport ini.

Alasannya sederhana. Pertama, Galeri Nasional Indonesia (atau Galnas) masih relatif dekat dari rumah saya dibandingkan tempat lain di bawah naungan Museum dan Cagar Budaya Indonesia (MCB) di area Jakarta. Saya bisa sampai di sana dalam waktu kurang dari satu jam jika naik TransJakarta. Kedua, sebagai orang yang cukup sering lewat sekitaran Galeri Nasional, tempat ini cukup sepi pengunjung, jadi kemungkinan saya bisa dapat Museum Passport di sana cukup besar (karena sedikit saingan). Ketiga, karena Galeri Nasional masuk ke dalam bagian dari Museum dan Cagar Budaya Indonesia (MCB), jadi kemungkinan saya bisa dapat buku ini cukup besar.

Dan sekitar jam 12 siang, saya pun berangkat ke Galeri Nasional.

Untuk sampai ke Galeri Nasional, kalian bisa naik TransJakarta koridor 2 (ke arah Pulo Gadung) dan turun di Halte Gambir 2. Dari Gambir 2, kalian tinggal berjalan sekitar lima menit saja untuk sampai ke Galeri Nasional.

Sesampainya di depan Galeri Nasional, kalian masuk saja dan jalan ke arah Mushola. Di depan Mushola, terdapat toko (sayangnya tanpa papan nama) yang menjual buku, kartu pos, hingga gantungan kunci di sana. Masuklah ke dalam toko tersebut, karena di sanalah tempat untuk membeli Museum Passport dan juga stempel-stempel dari Galeri Nasional diletakkan. Kalau masih bingung dengan penjelasan saya ini, kalian tanya saja petugas atau security di depan Galeri Nasional sesampainya di sana, dengan senang hati mereka bakal bantu kalian.

Begitu masuk ke dalam toko, Museum Passport dengan jelas ditampilkan di meja, menandakan bahwa mereka punya stok bukunya. Akhirnya. Setelah mendapatkan buku serta warna yang saya inginkan, saya pun langsung membayarnya ke kasir.

Penampakan Museum Passport Stamp Book

Tak lupa, saya pun membeli satu set kartu pos di sini dengan harga 50 ribu Rupiah (isi 2-3 kartu pos).

Kartu pos yang dijual di Galeri Nasional

Setelah bayar ke kasir, tibalah untuk mengecap buku yang baru dibeli ini dengan cap dari Galeri Nasional Indonesia, untuk menandakan kalian telah berkunjung ke sini. Di Galeri Nasional ini, telah disediakan enam cap yang kalian bisa pakai di Museum Passport atau di jurnal lain milik kalian.

Stempel dari Galeri Nasional Indonesia, yang berada di dalam Toko Galnas

Kesan saya terhadap Museum Passport ini adalah harganya yang masih cukup mahal (bagi saya), sekitar 81 ribu Rupiah (89 ribu Rupiah kalau kalian beli di Gramedia). Selain itu walau kertasnya agak tipis, namun tinta cap tak begitu tembus ke halaman berikutnya, hanya saja tinta cap terasa lambat sekali keringnya di kertas Museum Passport ini, jadi saya harus meniup-niup agar kering (atau kalian bisa siapkan kertas HVS atau tissue untuk dipakai menyerap kelebihan tintanya).

Kira-kira beginilah cap dari Galeri Nasional yang saya dapatkan hari ini:

Cap dari Galeri Nasional Indonesia

Dengan demikian, maka berakhirlah pencarian buku ini dan juga dimulainya petualangan saya untuk mencari kepingan pengetahuan, sejarah dan budaya di museum-museum serta cagar budaya yang ada di Indonesia ini.

#Note #StampHunting

Kemarin malam, ketika sedang scrolling sosial media, saya menemukan satu hal yang menarik perhatian saya: pihak Museum dan Cagar Budaya Indonesia merilis Museum Passport. Singkat cerita, dengan membeli buku ini seharga 81 ribu Rupiah, kalian bisa mendapatkan benefit khusus berupa voucher gratis masuk museum, serta dapat mengumpulkan stempel-stempel khusus yang disediakan oleh pihak museum dan cagar budaya di seluruh Indonesia, dan ditaruh di buku tersebut sebagai kenangan perjalanan. Dalam post akun Instagram Museum Nasional Indonesia, buku ini bisa didapatkan di unit museum yang dikelola MCB, Gramedia Matraman, Gramedia Melawai Jalma yang berada di Blok M, serta di situs gramedia.com.

Penampakan buku Museum Passport

Tadi sore, saya pun pergi ke Gramedia Matraman dengan niat membeli buku tersebut (karena di gramedia.com sudah habis terjual). Sesampainya di sana, saya diberitahu oleh petugas kalau buku Museum Passport sudah habis terjual, dan mereka juga tak dapat memastikan kapan buku tersebut bakal ada kembali.

Ya sudah, memang nggak ditakdirkan saya ikut-ikutan FOMO beginian. Mau ke Blok M juga rasanya sudah hilang niat, jadi saya pun langsung pulang ke rumah.

Tak apa nggak punya buku Museum Passport tersebut, setidaknya saya masih ada buku note book A6 polos seharga 5000 Rupiah yang bisa saya pakai buat koleksi stempel dari tempat-tempat yang saya kunjungi nantinya.

#Note #StampHunting

Hari ini adalah hari di mana saya memulai rencana saya untuk rakit PC.

Alasan utama saya ingin rakit PC adalah saya ingin sekali bermain Monster Hunter World dan Monster Hunter Wilds. Dangkal sekali alasan saya, bukan?

Saya tahu rakit PC di saat seperti ini memang sulit, apalagi harga RAM serta SSD saat ini nggak ngotak mahalnya. Maka dari itu, saya berencana nyicil beli parts-partsnya mulai dari parts yang mudah didapat (dan garansinya berlaku lama sejak dibeli) hingga yang termahal, seperti RAM dan GPU, satu per satu.

Yah, semoga rencana ini dapat berjalan dengan lancar. Amin.

#Note #RakitPC

Tulisan kali ini sedikit saja.

Sebetulnya, saya sudah pernah beberapa kali self-hosting, mulai dari self-host blog hingga self-host Mastodon (yang berakhir dalam beberapa bulan saja).

Kali ini, saya mulai self-host lagi dengan alasan yang simpel: hampir tak ada lagi service yang dapat saya percaya sekarang ini, terutama service dari korporasi besar. Sebelum saya memulai self-host, beberapa waktu yang lalu akun LinkedIn saya di-suspend dengan alasan yang tak jelas. Untuk membuka kembali akun saya, saya diminta untuk upload kartu identitas saya, yang tentu saja saya tak lakukan. Biarkan saja akun saya di-suspend selamanya.

Sekarang, untuk mengganti LinkedIn saya menggunakan GitHub (walaupun saya ingin pakai service yang lain) dan buat resume profesional serta portfolio simpel di sana (karena saya bukan orang IT). Saya taruh email, pengalaman kerja, organisasi, serta kegiatan volunteer saya di resume tersebut (hanya pakai HTML dan CSS). Untuk sosial media, saat ini saya pakai Akkoma dan WriteFreely (dari kak @yonle), serta GoToSocial dan BookWyrm yang saya install di VPS yang saya sewa. Jika kecepatan Internet di rumah saya sudah baik dan ada mini PC, mengkin saya akan coba self-host langsung dari rumah.

Rasanya kesemua service ini sudah cukup buat saya saat ini.

#Note

Sekitar tiga minggu yang lalu, instance BookWyrm yang saya pakai, Bookrastinating, tiba-tiba tidak bisa diakses. Awalnya, saya menunggu hingga dua hari, berharap mungkin servernya sedang down dan admin sedang sibuk IRL. Setelah dua hari menunggu dan tetap tak bisa diakses (mana belum back-up data di Bookrastinating pula), saya pun mencoba menghubungi admin, namun tak ada kejelasan kapan instance akan aktif kembali. Karena saya tak bisa menahan sabar lagi, saya pun memutuskan untuk kembali self-hosting. Saya pun menyewa VPS dengan RAM 4GB, lalu membeli domain dengan nama Nocojima.

Mengapa Nocojima?

Nocojima adalah gabungan dua kata dari “Noco” dan “Jima”.

Pertama, kata “Noco” atau のこ (Noko) diambil dari nama seorang podcaster asal Jepang favorit saya. Pada tahun 2018-2020 saya sering mendengarkan episode-episode podcast-nya Noco yang ia sampaikan dengan logat Kansai namun dapat dimengerti oleh saya yang level bahasa Jepangnya masih berada di level dasar (pada saat itu).

Kedua adalah kata “Jima” atau “Shima”, yang berarti pulau dalam bahasa Jepang. Kanji 島 (Shima) ini sebenarnya juga bisa dibaca とう (tou), namun karena kata “tou” terdengar aneh saat digabungkan dengan kata “Noco”, jadinya saya memutuskan untuk pakai kata “Jima” saja. Alasan lainnya kenapa saya pilih kata “Jima” adalah karena saya suka bermain Tomodachi Collection di Nintendo DS. Dalam gim Tomodachi Collection, sebuah karakter yang telah dibuat akan tinggal di sebuah pulau, lalu berinteraksi dengan karakter lainnya serta melakukan berbagai macam aktivitas di pulau tersebut. Seperti gim Tomodachi Collection, saya berharap dapat melakukan banyak aktivitas (dan bereksperimen) di server saya sendiri.

Apa yang saya install di Nocojima?

Untuk saat ini, saya hanya menginstall dua service di server saya: BookWyrm dan GoToSocial.

Kenapa hanya dua itu? Karena keterbatasan spek VPS (serta kondisi keuangan saya, dan kondisi Rupiah yang lesu). Setelah menginstall kedua service tersebut dan mengawasi pemakaian resource selama beberapa saat, didapati bahwa BookWyrm ternyata menggunakan RAM yang tidak sedikit (hingga 2GB sendiri). Kalau ditotal, kedua service tersebut memakan hampir 3GB dari kapasitas 4GB RAM.

Akhir kata

Akhir kata, untuk spek VPS yang saya punya sekarang, BookWyrm dan GoToSocial rasanya sudah cukup, kecuali jika nantinya saya mendapatkan VPS dengan spek lebih tinggi dengan harga terjangkau. Untuk blog, saya masih bisa pakai instance WriteFreely kak @yonle di PenWaltuh untuk sekarang.

Sekian dan terima kasih sudah membaca tulisan ini.

#Note