Hiki's Lifelog

This is my life

Warning: mh-, suicide.

Bulan Januari hingga Februari lalu depresi berat saya muncul kembali.

Karena tahun kemarin karir saya bisa dibilang tak berjalan baik, jadi saya berpikir “semoga di awal tahun ini saya bisa mendapatkan pekerjaan kembali.”

Jadi, di bulan Januari lalu saya berusaha keras mencari pekerjaan di LinkedIn. Sudah apply kesana-kemari, namun sebulan pun berselang dan tak ada kabar sama sekali. Puluhan bahkan ratusan pekerjaan saya apply, namun hampir semuanya di-ghosting (dan hanya satu kali interview).

Lalu, bulan Februari pun datang, dan depresi saya makin memburuk.

Di bulan ini, saya sempat berpikir beberapa kali untuk mengakhiri hidup saya sendiri. Saya bahkan sudah menyiapkan peralatan-peralatan dibutuhkan untuk mengakhiri hidup saya. Saat konsultasi ke psikiater bulan itu, saya mengatakan segalanya kepada dokter saya hingga menangis, karena tak tahu harus berbuat apa. Beberapa hari setelahnya, saya pun mengatakan kepada orangtua saya bahwa saya ingin mengakhiri hidup. Sontak, orangtua saya pun menangis, baik Ayah maupun Ibu. Saya hanya diam saja mendengar kedua orangtua saya menangis saat itu. Entah apakah keputusan saya dengan mengatakan kedua orangtua saya itu tepat atau tidak, namun setelah mengatakannya saya pun mengurungkan niat saya untuk mengakhiri hidup.

Lalu, Ramadan datang. Di Ramadan kali ini, saya berniat untuk ibadah lebih khusyuk.

Namun takdir berkata lain. Ayah saya pun jatuh sakit dan sempat dirawat empat kali di tiga rumah sakit yang berbeda. Alih-alih beribadah khusyuk, saya justru menghabiskan waktu menjaga Ayah saya yang saat ini kesulitan untuk bergerak, baik itu berjalan maupun duduk. Tarawih dan solat lima waktu saya lakukan di rumah dan di kamar rawat rumah sakit alih-alih di masjid.

Lalu, di minggu terakhir Ramadan, saya pun jatuh sakit. Badan saya lemas sekali, merasa mual, serta batuk-batuk. Bisa dibilang, Ramadan kali ini rasanya lebih berat dibandingkan tahun lalu.

Dengan segala tantangan tersebut, saya berusaha semampuku dan berserah diri pada Tuhan setelahnya.

Idulfitri pun datang, dan syukurlah depresi saya berangsur-angsur pulih. Frekuensi memikirkan cara untuk mengakhiri hidup pun makin jarang.

Sekarang ini, saya merasa lebih baik. Terima kasih banyak, terutama keluarga serta teman-teman di Fedi yang selalu support saya. Terima kasih banyak.

#LifeUpdate

Sebagai penikmat musik, apalagi nge-fans dengan suatu artis, pasti ada kalanya ingin sekali membeli tiket lalu menonton live concert artis favorit.

Saya pun demikian.

Sayangnya, di negara saya tinggal, penjualan serta distribusi tiket live concert betul-betul berantakan. Misalnya, si artis A mengumumkan live concert di sosial media mereka, lalu menjual tiket konsernya di Loket.com, lalu si artis B juga melakukan hal yang serupa, namun ia menjual tiket konsernya di Tiket.com, serta artis C bahkan sampai membuat website promosi serta penjualan tiket konsernya sendiri.

Betul-betul tersebar di banyak tempat. Tak terpusat.

Bagi orang yang jarang menonton konser (apalagi tak punya sosial media populer seperti saya), mencari event serta membeli tiket konser adalah sebuah kesulitan tersendiri.

Sekarang, bandingkan dengan Jepang.

Di Jepang, tiket event live concert serta event-event lain mudah ditemukan di eplus tickets. Bahkan, event-event besar dan terkenal seperti Fuji Rock Festival dan Summer Sonic dijual di sini. Tak hanya artis lokal, tiket konser dari artis luar negeri (yang mengadakan konser di Jepang) pun bisa didapatkan di sini. Pembayaran tiketnya pun juga mudah dijangkau, bahkan bisa dibayar di minimarket terdekat.

Bisa dibilang, distribusi tiket event live concert mereka dapat ditemukan di satu platform saja. Tak perlu susah-susah mencari.

Saya berharap suatu hari nanti, terdapat satu platform penjualan tiket yang memang khusus diperuntukkan untuk live concert (di negara ini). Artis pendatang baru, artis populer, hingga artis mancanegara dipersilahkan menjual tiket live concert-nya di platform tersebut, jadi fans tak perlu susah-susah mencari, serta pembayaran tiket konser pun mudah dijangkau banyak kalangan.

#Note

Pada tanggal 13 Januari hingga 23 Januari 2025 lalu, Ichiko Aoba mengadakan konser untuk merayakan peringatan 15 tahun sejak ia debut. Konser peringatan 15 tahun tersebut diadakan di dua kota, yaitu di kota Kyoto dan Tokyo, Jepang. Di bulan Januari 2026, album ini pun rilis. Berisikan 21 lagu, album ini direkam di Tokyo Opera City Concert Hall, Tokyo, Jepang.

Kalian bisa support Ichiko Aoba dengan membeli album-albumnya, salah satunya di Bandcamp berikut: https://ichikoaoba.bandcamp.com/music

Enak didengar ketika: duduk sendirian, menunggu seseorang, di antara hiruk-pikuk manusia Aftertaste: menunggu tak lagi membosankan Best track(s): ココロノセカイ (Kokoro no Sekai) (live at Tokyo Opera City Concert Hall, Tokyo, 2025) For fans of: Lamp, Kaede, mei ehara

#Music #AlbumSpotlight

“A Distant Shore” adalah live album pertama dari Lamp yang rilis pada 23 April 2019. Lagu-lagu yang berada pada album ini direkam pada 8 September 2018 di KT&G Sangsang Madang, Seoul, Korea Selatan saat tur Asia mereka. Album ini berisikan 19 lagu yang dibagi ke dalam dua CD.

Enak didengar ketika: nggak dapat tiket konser Aftertaste: kapan Lamp mampir ke kotaku lagi? Best track(s): 最終列車は25時 (Saishū Ressha wa Nijūgo-Ji) For fans of: Kaede, Minuano, Ichiko Aoba

#Music #AlbumSpotlight

Halo dan selamat datang di segmen baru blog saya, My Playlist.

Di segmen ini, saya memuat tiga sampai lima lagu yang saya dengarkan akhir-akhir ini, beserta review singkat dari saya. Saya usahakan untuk menulis segmen ini sesering mungkin (untuk latihan menulis).

Langsung saja, berikut lagu-lagu yang saya perkenalkan di edisi kali ini:

Teenager Forever – King Gnu

Saya tahu King Gnu pertama kali itu pas akhir tahun 2019. Saat itu, lagu Hakujitsu populer sekali dan sering diputar di radio Jepang seperti Tokyo FM atau InterFM. Di tahun 2020, album CEREMONY pun rilis dan saat itu saya sering memutar lagu-lagu di album ini berulang-ulang. Enam tahun berselang, saya masih suka album ini.

Berikut merupakan salah satu lagu favorit saya di album tersebut: Teenager Forever.

Bling-Bang-Bang-Born – Creepy Nuts

Walaupun telah rilis pada Februari 2025 lalu, namun saya baru tahu album LEGION ini bulan lalu. Banyak lagu yang saya sukai di album ini karena beat-nya enak serta cocok di telinga saya, termasuk lagu satu ini (yang merupakan favorit saya).

Rondeau – Umitaro Abe

Lagu ini saya temukan secara random minggu ini dan langsung menjadi salah satu lagu favorit karena alunan melodi pianonya membawa suasana positif pada diri saya.

Sekian, dan sampai jumpa di edisi berikutnya dari My Playlist!

Terima kasih banyak sudah membaca.

#Music #MyPlaylist

Dalam tiga bulan terakhir, Ayah saya harus menjalani perawatan di rumah sakit sebanyak empat kali.

Semua bermula di akhir Desember lalu. Saat itu Ayah saya merasakan nyeri pada pinggang belakangnya. Namun dalam beberapa minggu kemudian, rasa sakitnya menjadi semakin parah dan menjalar hingga bagian bawah tubuhnya. Saat ini Ayah saya kesulitan berjalan maupun duduk.

Selama empat kali dirawat, saya bersama adik dan Ibu bergantian menjaga Ayah yang terbaring di rumah sakit. Yang terakhir terjadi dua minggu yang lalu (dan akhirnya Ayah dapat keluar dari rumah sakit kemarin).

Di rumah sakit yang terakhir, Ayah saya dirawat di ruangan kelas tiga bersama 7 orang lainnya yang rata-rata berusia lansia. Yang membuat saya sedih adalah beberapa dari mereka yang mengisi ruangan tersebut tak ada satu orangpun yang mendampingi. Tak ada istri atau anak yang menemani mereka. Bahkan kerabat pun tak ada satupun yang menjenguk mereka. Terbaring sendirian, tak berdaya. Hanya suster dan dokter saja yang sesekali mengecek mereka, memastikan mereka baik-baik saja.

Dari wajah mereka, tampak raut kesedihan, kesepian, bahkan kehilangan semangat serta harapan untuk hidup. Berat rasanya hati saya ketika mereka yang seharusnya didampingi oleh istri, anak atau bahkan cucu mereka, malah dibiarkan sendirian seperti ini. Bahkan dua hari yang lalu, salah satu dari mereka dilarikan ke ruang ICCU karena sudah kehilangan kesadaran.

Entah bagaimana mereka menjalani hidup hingga berakhir seperti ini. Selama saya di ruang rawat sambil menjaga Ayah saya, saya melihat mereka semua, berharap agar mereka semua lekas membaik dan kesalahan-kesalahan mereka di masa lalu digugurkan dalam rasa sakitnya. Mereka pun berhak mendapat pendampingan yang layak di akhir hayatnya, bukan menghadapinya dalam kesendirian.

#Note

Warning: mh-, suicide.

Seminggu yang lalu, saya mendapatkan sebuah email dari L yang mengatakan bahwa Z baru saja wafat. Dan yang begitu mengejutkan adalah, Z meninggal dengan cara mengakhiri hidupnya sendiri.

Selama beberapa hari setelah menerima email tersebut (bahkan hingga saat saya menulis ini), saya terdiam dan merasa hampa, tak membayangkan ataupun menyangka bahwa Z akan mengakhiri hidupnya sendiri.

Perkenalan saya dengan Z pertama kali adalah pada tahun 2010. Saat itu hari pertama saya bersekolah di negeri tetangga, Singapura. Sebagai wakil ketua kelas saat itu, ia (dan L, sebagai ketua kelas) mengajak saya untuk keliling sekolah dan mengenalkan seperti apa sekolah baru saya. Dan selama setahun saya berada di Singapura, saya dan Z menjadi cukup dekat. Tak hanya di sekolah, kami pun sering pergi bareng di akhir pekan, entah itu main ke taman, belajar di perpustakaan, makan di hawker, hingga main ke toko buku bekas ataupun toko art supply. Di mata saya, ia adalah ekstrovert tulen: riang, aktif, obrolannya menarik, dan kadang kelakuannya random. Namun hal itulah yang membuat saya yang introvert ini tertarik, bahkan suka kepadanya. Secara prestasi di sekolah, ia termasuk yang terpintar di kelas, namun ia tak terlalu ambisius seperti murid Singapura lainnya. Ia bisa saja mendapatkan beasiswa dan masuk ke universitas terbaik di luar Singapura (bahkan U.S.) dan memilih jurusan sains, namun ia memutuskan untuk tetap di Singapura dan mengambil jurusan arsitek setelah lulus di tahun 2011.

Beberapa tahun setelah kami lulus, saya beberapa kali pulang-pergi Singapura dan bertemu dengannya (dan dengan L juga), sebelum kesibukan masing-masing membuat jarak yang lebar di antara kami berdua. Sebelum pandemi, di awal tahun 2020, ia mengabarkan saya bahwa ia tinggal di Australia dan melanjutkan S2 di sana.

Dan itulah terakhir kali saya mendengar kabarnya, sebelum kabar duka tersebut datang.

Apa yang terjadi dengannya selama lima tahun terakhir, atau bahkan selama ia hidup, tetap dan akan selamanya jadi misteri. Pertemanan saya dengan Z bisa dibilang singkat, namun saya dapat mengatakan bahwa Z adalah salah satu teman terbaik saya. Saya berharap saya sudah menjadi teman atau rekan yang baik selama ia menjalani hidup, dan bukan membuatnya menderita dan menjadi salah satu penyebab ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.

Untuk Z, semoga kamu beristirahat dalam damai. Terima kasih banyak, untuk segalanya.

#Note

Sejak minggu lalu, timeline di sosial media saya penuh dengan orang-orang yang menetapkan resolusi tahun 2026-nya. Ada orang yang ingin membuat jurnal (seperti bullet journal, travel journal, hingga junk journal), ada pula yang ingin belajar bahasa baru. Sebagai orang yang motivasinya naik-turun, rasanya saya tak cocok untuk membuat jurnal, apalagi fokus untuk belajar bahasa baru, walaupun saya sebetulnya ingin.

“Jadi, di tahun 2026 ini tak ingin berubah sama sekali, dan tetap sama seperti tahun sebelumnya?”

Tidak juga. Tetap ada hal yang ingin saya ubah atau setidaknya saya ingin lakukan, walaupun hal tersebut bukanlah hal yang besar atau signifikan.

Berikut hal-hal yang ingin saya lakukan pada tahun ini:

  • Berhenti total pakai Spotify dan beralih mendengarkan musik dari file mp3, AAC, atau FLAC. Sudah cukup saya pakai platform streaming ini. Saatnya saya kembali mendengarkan semua tracks dalam satu album dari suatu artis, alih-alih mendengarkan satu playlist yang di dalamnya ada banyak tracks dari beberapa artis. Sebetulnya, saya ingin memiliki CD album ataupun Vinyl, namun kamar saya terlalu kecil untuk mengoleksi semua itu (serta melawan prinsip minimalis yang sedang saya lakukan saat ini).

  • Membeli sebuah music player untuk menyimpan lagu-lagu favorit saya. Saya ingin punya device terpisah untuk mendengarkan lagu, alih-alih menggunakan smartphone.

  • Menggunakan smartphone seperlunya saja. Tujuan akhirnya adalah hanya menggunakan smartphone dikala benar-benar butuh, dan menghapus aplikasi-aplikasi yang tak lagi penting di sana.

  • Membaca buku dengan rakus, dengan melahap buku sebanyak mungkin dari berbagai genre. Untungnya di sekitar saya tinggal ada beberapa perpustakaan dengan berbagai macam koleksi yang dapat dipinjam dengan durasi 7-14 hari dan dapat diperpanjang, jadi saya tak harus repot-repot beli buku di toko buku.

Rasanya ini saja.

Apa resolusi 2026 kalian?

#Note

Hari ini, saya merenungkan apa yang sudah terjadi pada diri saya selama tahun 2025 ini.

Rasanya, tak banyak hal yang saya lakukan atau capai selama tahun ini.

Pertama-tama, saya mencoba hidup minimalis (walau tak sampai tahap ekstrim). Terinspirasi dari buku goodbye, things karya Fumio Sasaki, saya pun mulai membereskan serta membuang barang-barang yang tak saya butuhkan. Saya membuang meja besar dengan kursi, kabel-kabel, pakaian, hingga buku tahunan SMA saya. Semua saya buang ke tempat sampah, tanpa memikirkan untuk menjualnya kembali. Sekarang, di kamar saya hanya ada lemari berisi pakaian yang memang ingin saya pakai, kasur, laptop dengan meja kecil, serta beberapa buku.

Lalu, kondisi mental saya di tahun ini rasanya mirip-mirip dari tahun sebelumnya. Adakala saya merasa baik dan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu yang saya senangi, namun adakala saya merasa sangat depresi hingga tak dapat melakukan apapun dan meringkuk di kasur, terutama di bulan Desember ini, yang entah kenapa saya seringkali merasakan apa yang disebut holiday blues.

Intinya, hidup saya selama 2025 ini berjalan tak signifikan. Ada hal baik yang terjadi, namun ada juga beberapa hal buruk terjadi. Namun setidaknya saya survived.

Semoga tahun depan berjalan baik.

#LifeUpdate

Awal bulan ini, saya kembali lagi ke Ibukota setelah lebih dari empat bulan lamanya saya tinggal di desa terpencil. Dengan demikian, saya resmi menjadi pengangguran kembali.

Setelah sampai di Ibukota, saya menghabiskan waktu selama seminggu untuk merapihkan kamar, menyusun kembali resume, serta merencanakan apa yang harus saya lakukan kedepannya. Setelah semuanya selesai, saatnya eksekusi rencana.

Selama tiga minggu di bulan November, saya kembali apply lowongan kerja. Awalnya saya tak ambil pusing saat apply (lebih tepatnya saya tak mau ambil pusing). Namun, dua minggu setelahnya saya mendapatkan banyak email penolakan (lebih dari 50 email) yang membuat saya cukup depresi, serta memikirkan dalam-dalam apa yang salah dalam lamaran saya. Akibatnya, ritme hidup saya pelan-pelan terganggu, mulai dari tidur lebih larut dari biasanya, hingga tak berselera melakukan kegiatan sehari-hari. Bahkan, selama November ini saya hampir tak bermain gim sama sekali.

Saya berharap bulan depan lebih baik dari bulan ini.

#LifeUpdate